IHSG Rontok 2,20% ke 5.812, Inflasi AS Bikin Pasar Saham Asia Berguguran

Intime – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan Kamis (15/10). Tekanan terhadap pasar saham Indonesia terjadi bersamaan dengan pelemahan mayoritas bursa Asia setelah inflasi Amerika Serikat (AS) naik di atas perkiraan pasar.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG melemah 2,20% ke level 5.812,45 sekitar pukul 11.00 WIB.

Sejumlah bursa Asia juga berada di zona merah. Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,90% ke 5.374,75. Shanghai Composite Index (SSEC) melemah 1,98% ke 3.692,64, sedangkan Hang Seng Index (HSI) turun 1,47% ke 23.955,58.

Penurunan terdalam di antara indeks yang disebutkan terjadi pada Nikkei 225 Jepang, yang merosot 4,71% ke level 64.555.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelemahan IHSG mengikuti koreksi bursa global setelah inflasi AS periode September 2026 tercatat 3,7% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Menurutnya, angka tersebut masih cukup jauh dari target inflasi The Federal Reserve (The Fed), sehingga membuka peluang bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Herditya memperkirakan The Fed masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) satu kali lagi sebelum akhir 2026.

“Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM,” ujar Herditya.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) dapat membuat investor lebih tertarik menempatkan dana di aset AS. Dampaknya, pasar negara berkembang atau emerging markets (EM), termasuk Indonesia, berisiko mengalami arus modal asing keluar.

Riset BRI Danareksa Sekuritas turut mengidentifikasi inflasi AS yang melampaui ekspektasi sebagai salah satu pemicu tekanan pasar. Inflasi inti AS pada September tercatat 2,6% secara tahunan. Penguatan dolar AS akibat kondisi tersebut juga berpotensi menekan rupiah.

Sentimen lain datang dari Timur Tengah. Ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia.

Sementara itu, China mencatat surplus perdagangan US$ 133,53 miliar pada September 2026. Ekspor tumbuh 36,3% dan impor naik 31% secara tahunan. Perkembangan ini berpotensi menopang permintaan komoditas Indonesia, tetapi belum cukup meredam tekanan sentimen global terhadap IHSG.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini