Intime – Kabar duka datang dari keluarga Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto (AS). Mantan Panglima TNI periode 1999-2002 sekaligus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) periode 2004-2009 itu meninggal dunia.
Widodo juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada periode 2009-2014.
Mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen Johannes Suryo Prabowo menyampaikan duka atas kepergian Widodo. Ia menyebut kabar tersebut membawa kesedihan bagi keluarga besar TNI dan bangsa Indonesia.
“Berita duka atas berpulangnya Laksamana TNI (Purn) Widodo AS membawa duka yang mendalam bagi segenap keluarga besar Tentara Nasional Indonesia dan bangsa Indonesia,” kata Johannes, Minggu (25/10).
Rumah duka berada di Jalan Gading Raya 1 Blok D Nomor 14, RT 007/RW 05, Kompleks TNI Angkatan Laut, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.
Adapun jadwal pemakaman Widodo akan diumumkan kemudian.
Widodo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 1 Agustus 1944. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Surakarta sebelum lulus dari Akademi Angkatan Laut pada 1968.
Karier militernya terus berkembang hingga dipercaya menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL). Ia kemudian menduduki posisi Panglima TNI.
Pada 1999, Presiden BJ Habibie mengangkat Widodo sebagai Wakil Panglima ABRI. Selanjutnya, pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Widodo dipercaya menjadi Panglima TNI untuk periode 1999-2002.
Widodo mencatat sejarah sebagai Panglima TNI pertama yang berasal dari matra Angkatan Laut. Ia juga menjadi panglima pertama sejak 1962 yang berasal dari luar Angkatan Darat.
Selain berkarier di militer, Widodo pernah menjabat Menko Polkam pada 2004-2009. Setelah itu, ia menjadi anggota Wantimpres selama lima tahun.
Atas pengabdiannya, Widodo menerima sejumlah tanda kehormatan, termasuk Bintang Mahaputera Adipradana pada 13 Agustus 1999.
Pada 2000, ia juga memperoleh penghargaan militer dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang perwira Angkatan Laut yang pernah menduduki sejumlah posisi strategis di lingkungan militer dan pemerintahan Indonesia.

