MUI Minta Umat Islam Boikot Habib Alwi Assegaf Imbas Ceramahnya yang Dinilai Merendahkan Perempuan

Intime — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis meminta umat Islam tidak lagi mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf untuk berceramah.

Seruan itu disampaikan setelah potongan video ceramah pendakwah tersebut beredar luas di media sosial dan menuai kritik karena dinilai merendahkan perempuan.

Melalui akun X pribadinya, @cholilnafis, Selasa (20/10), Cholil meminta masyarakat tidak mengikuti majelis yang menghadirkan penceramah tersebut.

“Saudare-saudare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya,” tulis Cholil.

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menilai materi ceramah yang beredar tidak mencerminkan etika dan keteladanan seorang dai. Menurut dia, penyampaian dakwah semestinya menjaga kesantunan dan tidak merusak citra Islam.

“Begini ini mau apa pun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini,” ujarnya.

Polemik bermula dari rekaman video yang beredar di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, sosok yang diidentifikasi sebagai Habib Alwi membicarakan tarif ceramah yang disebutnya paling rendah mencapai Rp 75 juta.

Rekaman itu kemudian menuai perhatian ketika penceramah tersebut melontarkan kelakar mengenai santriwati. Ia menyatakan ingin memilih calon istri keempat dan meminta santri perempuan dihadirkan di hadapan jemaah.

“Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih,” ujar sosok dalam rekaman tersebut.

Dalam bagian lain video, ia juga melontarkan pernyataan mengenai perempuan berusia di atas 60 tahun yang hadir dalam majelisnya. Ucapan tersebut dinilai merendahkan perempuan dan memicu kritik dari warganet.

“Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan seger. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda,” kelakarnya.

Meski demikian, penilaian terhadap isi ceramah tersebut perlu ditempatkan berdasarkan rekaman utuh dan konteks penyampaiannya. Potongan video yang beredar di media sosial tidak selalu menggambarkan keseluruhan isi ceramah.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini