Intime – Komisi B DPRD DKI Jakarta menyoroti kinerja keuangan dan operasional dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yakni Perumda Pembangunan Sarana Jaya dan Perumda Pasar Jaya. Pasalnya, realisasi pendapatan kedua BUMD tersebut dinilai belum memenuhi target yang telah ditetapkan.
Sorotan ini disampaikan Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh, usai rapat evaluasi Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Tahun 2025 bersama jajaran BUMD, Jumat (24/4).
Nova mengungkapkan, kinerja pendapatan Sarana Jaya sepanjang 2025 masih jauh dari target. Dari Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) sebesar Rp763 miliar, realisasi yang tercapai baru sekitar 40 persen atau Rp306 miliar.
“Kondisi ini tentu menjadi bahan evaluasi ke depan,” ujar Nova di Gedung DPRD DKI Jakarta.
Tak hanya dari sisi pendapatan, penjualan unit perumahan Sarana Jaya juga menjadi perhatian. Ia mencontohkan salah satu klaster perumahan yang hanya terjual dua unit, mencerminkan lemahnya serapan pasar.
Melihat kondisi tersebut, Nova mengusulkan agar Sarana Jaya menghentikan sementara pembangunan proyek baru dan beralih fokus pada optimalisasi aset yang dimiliki, yang nilainya diperkirakan mencapai Rp6 triliun.
“Ke depan, aset Sarana Jaya yang nilainya sekitar Rp6 triliun harus dimaksimalkan. Tidak perlu lagi ekspansi pembangunan baru,” tegasnya.
Selain Sarana Jaya, Komisi B juga menyoroti kinerja Perumda Pasar Jaya, khususnya dalam pemanfaatan Penyertaan Modal Daerah (PMD). Nova menyebut, masih terdapat sisa dana PMD tahun 2024 sekitar Rp400 miliar yang belum terserap secara optimal.
Ia menilai, sejumlah kendala teknis seperti gagal lelang proyek revitalisasi pasar turut menghambat progres pembangunan. Dampaknya, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui dividen masih rendah, yakni berkisar Rp8 hingga Rp10 miliar.
“Kami menantang Pasar Jaya untuk ke depan bisa meningkatkan revenue dan dividen, terutama dari pasar-pasar yang sudah direvitalisasi,” katanya.
Untuk mendorong peningkatan kinerja, Nova juga mengusulkan agar Pasar Jaya mulai mengembangkan konsep mix-use di pasar tradisional. Konsep ini diharapkan dapat menggabungkan fungsi perdagangan dengan aktivitas kreatif, seperti ruang bagi UMKM anak muda hingga fasilitas olahraga.
Dengan pendekatan tersebut, pasar tradisional diharapkan kembali bergairah dan mampu menarik minat masyarakat luas.
“Kita ingin ada kreativitas di pasar. Jangan hanya berfokus pada pasar basah semata,” pungkas Nova.

