Pengganti Perry Warjiyo Harus Independen demi Jaga Kepercayaan Pasar

Intime – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai akan menjadi perhatian serius pelaku pasar. Pakar ekonomi Dipo Satria Ramli mengingatkan pemerintah agar memilih sosok pengganti yang memiliki latar belakang moneter yang kuat dan tetap menjaga independensi bank sentral.

Menurut Dipo, kepastian mengenai kepemimpinan BI menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

“Pasar akan membacanya sebagai kepanikan. Apalagi, kemarin itu ada RDG BI yang memutuskan suku bunga tidak akan mengalami perubahan. Tapi, BI banyak mengeluarkan instrumen non bunga,” kata Dipo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/7).

Ia menilai langkah BI yang mengoptimalkan instrumen selain suku bunga menunjukkan adanya tekanan yang dihadapi otoritas moneter. Instrumen yang dimaksud antara lain Hedging Board Spot dan Hedging Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Kebijakan ini seakan-akan menunjukkan BI mulai mepet,” ujarnya.

Dipo mengatakan, perhatian pelaku pasar kini akan tertuju pada sosok yang akan ditunjuk sebagai Gubernur BI definitif menggantikan Perry Warjiyo. Menurut dia, pemerintah perlu memastikan calon yang dipilih merupakan figur yang memahami kebijakan moneter sekaligus mampu menjaga independensi lembaga.

Ia mengingatkan agar tidak terjadi kondisi fiscal dominance atau dominasi kebijakan fiskal terhadap kebijakan moneter.

“Saya tidak tahu siapa penggantinya. Tapi jangan sampai terjadi fiscal dominance atau suatu kondisi di mana kebijakan fiskal menguasai kebijakan moneter, sehingga bank sentral terpaksa mendukung program negara dan pembiayaan utang, alih-alih fokus menjaga stabilitas harga. Moneter semakin tidak independen. Pasar enggak suka itu,” katanya.

Dipo juga menyoroti peningkatan porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia. Menurutnya, saat ini kepemilikan BI terhadap SBN telah mencapai sekitar 30 persen.

“Jadi 30 persen dari SBN itu dimiliki oleh BI. Ini mengarah ke fiscal dominance,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan pengganti Perry Warjiyo agar independensi bank sentral tetap terjaga.

Menurut Dipo, apabila dominasi fiskal terhadap kebijakan moneter semakin besar, dampaknya dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan mengurangi kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

“Jika itu terjadi, pelemahan rupiah akan terus berlanjut. Tak bisa asal papa senang saja,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini