Intime – Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) berpotensi memicu gejolak pasar apabila tidak disertai penjelasan yang transparan dan proses transisi yang kredibel.
“Yang paling penting saat ini adalah menjaga kepercayaan pasar. Jika proses transisi berlangsung transparan dan independensi Bank Indonesia tetap terjaga, dampaknya bisa diminimalkan. Sebaliknya, jika memunculkan persepsi adanya intervensi politik, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan berpotensi meningkat,” kata Achmad, Senin (27/7).
Menurutnya, pasar akan lebih dulu merespons ketidakpastian dibanding menunggu penjelasan resmi. Kondisi tersebut dapat mendorong pelemahan rupiah, kenaikan premi risiko, hingga arus keluar modal asing.
“Investor akan melihat apakah arah kebijakan moneter tetap konsisten dan apakah gubernur pengganti memiliki independensi yang kuat. Ketidakpastian itu bisa membuat investor menahan investasi atau mengurangi kepemilikan aset rupiah,” ujarnya.
Achmad juga mengingatkan, dampak pergantian pimpinan BI tidak hanya dirasakan di pasar keuangan, tetapi dapat menjalar ke sektor riil melalui kenaikan biaya pinjaman pemerintah dan dunia usaha.
“Kalau biaya pembiayaan naik, ruang fiskal pemerintah ikut tertekan. Pada akhirnya masyarakat yang menanggung dampaknya melalui bunga kredit yang lebih tinggi, perlambatan investasi, hingga potensi melambatnya penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah perlu segera memberikan penjelasan terkait pengunduran diri Perry Warjiyo sekaligus memastikan proses pemilihan gubernur BI definitif berlangsung terbuka, profesional, dan berbasis kompetensi.
“Rupiah tidak hanya dijaga dengan cadangan devisa atau suku bunga, tetapi juga oleh kepercayaan bahwa kebijakan moneter dijalankan secara profesional dan bebas dari tekanan politik,” tutupnya.

