Intime – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai kesenjangan ekonomi antara Indonesia dan Vietnam berpotensi terus melebar. Perbedaan performa pertumbuhan ini dinilai bukan sekadar selisih angka statistik, melainkan cerminan dari perbedaan fundamental arah pembangunan ekonomi kedua negara dalam jangka panjang.
Anthony memaparkan, laju ekonomi Vietnam menunjukkan tren yang sangat agresif dengan pertumbuhan menyentuh kisaran 9,95 persen pada kuartal III 2026, melompat dari periode sebelumnya.
Perbedaan paling mencolok terlihat dari struktur ekspor kedua negara. Sepanjang Januari–Agustus 2026, nilai ekspor Vietnam mencapai US$374,84 miliar atau hampir dua kali lipat dibanding Indonesia yang berada di angka US$193,64 miliar.
Lebih lanjut, sekitar 90,2 persen atau US$337,99 miliar dari total ekspor Vietnam didominasi oleh produk manufaktur olahan. Sementara Indonesia masih bertumpu pada penjualan komoditas mentah dan produk turunannya, seperti minyak nabati dan sawit.
Dari sisi neraca perdagangan, Anthony mengkritisi surplus perdagangan Indonesia yang dinilai rapuh karena sangat bergantung pada komoditas perkebunan. Sebaliknya, defisit perdagangan yang dialami Vietnam justru didorong oleh masifnya impor mesin dan bahan baku untuk memperkuat ekosistem industri domestik.
Persoalan ini berdampak langsung pada indikator kesejahteraan sosial. Berdasarkan standar garis kemiskinan internasional US$8,30 per hari, proporsi penduduk miskin di Indonesia pada 2025 tercatat masih mencapai 64,1 persen atau sekitar 183 juta jiwa, jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam yang berada di angka 18,7 persen. Padahal, dari sisi produk domestik bruto per kapita, posisi Vietnam telah menyentuh angka US$5,066, sedikit melampaui Indonesia yang berada di kisaran US$5,060.
Melihat kondisi ini, PEPS mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap orientasi kebijakan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi yang hanya bertumpu pada konsumsi domestik dan komoditas dinilai gagal menciptakan industrialisasi manufaktur berorientasi ekspor yang menyerap tenaga kerja layak

