Peringatan 30 Tahun Kudatuli, Ribka Tjiptaning: Jangan Biarkan Tentara Masuk Lagi ke Ruang Politik

Intime – Ketua DPP PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning menegaskan peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli menjadi pengingat penting agar Tentara Nasional Indonesia (TNI) tetap profesional dan tidak kembali masuk ke ranah politik.

Hal itu disampaikan Ribka saat menghadiri peringatan 30 tahun Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7).

Menurut Ribka, penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996 bukan hanya ditujukan kepada kantor partai atau pendukung Megawati Soekarnoputri, melainkan kepada masyarakat akar rumput yang saat itu menyuarakan perubahan.

“Yang diserang adalah akar rumput. Suara rakyat yang ingin berbicara kepada penguasa dan rezim saat itu,” ujar Ribka.

Ia mengatakan pemerintah kala itu mengerahkan berbagai kekuatan, termasuk aparat keamanan dan penutupan akses menuju Jakarta, untuk membatasi pergerakan massa dari berbagai daerah. Namun, upaya tersebut dinilai tidak mampu membendung dukungan masyarakat yang kemudian bermuara pada kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu 1999.

Bagi Ribka, Kudatuli merupakan salah satu titik awal menguatnya gerakan demokrasi di Indonesia setelah sebelumnya kebebasan masyarakat mengalami berbagai pembatasan.

Dalam pidatonya, Ribka juga mengingatkan agar TNI tidak kembali menjalankan fungsi di luar tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara.

“Tidak boleh lagi tentara masuk ke ruang politik, menjadi bagian dari pemerintahan sipil, atau mengurus hal-hal yang bukan menjadi tugas pertahanan,” katanya.

Menurut dia, prajurit seharusnya fokus meningkatkan kemampuan profesional di bidang pertahanan, mulai dari operasi darat, laut, hingga udara.

Ribka kemudian mengutip pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Presiden Soekarno yang menegaskan bahwa tentara nasional tidak boleh terpecah oleh kepentingan politik dan harus berdiri di atas seluruh golongan.

Menutup sambutannya, Ribka memberikan penghormatan kepada para korban dan pejuang demokrasi dalam peristiwa Kudatuli. Ia menyebut keberanian masyarakat menyampaikan kritik, mahasiswa yang berdemo, hingga warga yang menyuarakan pendapat saat ini merupakan bagian dari hasil perjuangan para martir demokrasi 30 tahun silam.

“Yakinlah, keberanian itu telah diperjuangkan 30 tahun yang lalu,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini