Intime – Perebutan posisi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 diprediksi menjadi persaingan menarik. Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli menilai Puan Maharani berpotensi memiliki keunggulan dibandingkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gibran Rakabuming Raka.
Nasarudin melihat sinyal persaingan itu tersirat dalam pidato Prabowo yang menyinggung anak-anak presiden yang kini duduk berdampingan, tetapi bisa bersaing pada masa depan.
“Hal tersebut tampak disiratkan ketika Prabowo menyebut para anak presiden yang duduk di depannya itu memang duduk bersampingan sekarang, tetapi di masa depan bisa saja mereka saling bersaing,” kata Nasarudin dalam keterangannya, Jumat (9/10).
Menurut Nasarudin, AHY, Gibran, dan Puan sama-sama memiliki modal politik untuk masuk bursa pendamping Prabowo. Namun, kekuatan mereka berasal dari sumber yang berbeda.
AHY memiliki kendali atas Partai Demokrat, termasuk mesin politik dan dukungan kader. Kekuatan tersebut juga berkaitan dengan pengaruh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang masih menjadi figur penting dalam strategi politik Demokrat.
Di sisi lain, Gibran memiliki posisi sebagai wakil presiden dan keterkaitan politik dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Dukungan pemilih yang loyal kepada Jokowi dinilai dapat menjadi nilai tawar bagi Gibran.
Sementara itu, Puan membawa nama besar keluarga Sukarno dan memiliki posisi strategis di PDI-P. Nasarudin menilai Puan bisa lebih leluasa membangun identitas politiknya sendiri apabila mampu memperkuat kendali di internal partai.
“Sebaliknya, Puan memiliki kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri tetapi dengan satu syarat: ia harus bisa menggeser dominasi Megawati Soekarnoputri di PDIP,” ujarnya.
Jika berhasil mengonsolidasikan kekuatan PDI-P dan membuka jalan kerja sama dengan Prabowo, Nasarudin menilai peluang Puan bisa semakin besar. Dukungan partai besar akan menjadi modal penting dalam kalkulasi politik menuju 2029.
Meski demikian, Nasarudin mengingatkan peluang AHY dan Gibran tidak tertutup. AHY dapat menjadi pilihan untuk memperluas dukungan dari pemilih Demokrat, sedangkan Gibran berpotensi menjadi penghubung bagi Prabowo untuk mempertahankan basis pendukung Jokowi.
“AHY bisa menjadi opsi untuk memperkuat dukungan dari kelompok pemilih Demokrat yang selama ini lebih condong ke arah oposisi. Sementara itu, Gibran bisa menjadi jembatan bagi Prabowo untuk mempertahankan basis pemilih loyal Jokowi di 2029,” katanya.
Nasarudin menegaskan, pilihan cawapres pada akhirnya bergantung pada kalkulasi politik Prabowo. Selain kekuatan partai, faktor basis pemilih, sumber daya, kemampuan membangun koalisi, dan keuntungan strategis bagi Prabowo akan ikut menentukan.
Dengan demikian, penilaian bahwa Puan berpeluang unggul masih bergantung pada kemampuannya memperkuat posisi politik dan membuka ruang kerja sama dengan Prabowo.

