Intime – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Senin (13/7) pagi, rupiah melemah 25 poin atau 0,14 ke level Rp18.090 per dolar Amerika Serikat (AS), dari penutupan sebelumnya di Rp18.065 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi rupiah dan menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap perekonomian domestik masih belum mereda. Posisi rupiah yang bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan dunia usaha, serta memperbesar beban subsidi dan pembayaran utang luar negeri.
Bagi pelaku usaha, kurs yang semakin lemah dapat memicu kenaikan harga bahan baku impor dan mendorong inflasi. Sementara bagi pemerintah, pelemahan rupiah menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi ujian bagi efektivitas kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik. Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar serta menjaga stabilitas makroekonomi.
Jika tren pelemahan terus berlanjut, dampaknya diperkirakan akan semakin terasa pada harga barang impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat dalam beberapa waktu ke

