Sudirman Said: Kampus Bukan Menara Gading, Tapi “Jantung Perubahan” dan Pusat Solusi Nyata

Intime — Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), Sudirman Said, menegaskan arah baru perguruan tinggi: tidak terjebak sebagai menara gading, namun juga tidak kehilangan jati diri akademiknya. Ia mendorong kampus menjadi center of solution ruang yang aktif menjawab persoalan nyata masyarakat tanpa meninggalkan nilai keilmuan.

“Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Kampus harus menjadi jantung perubahan, ruang lahirnya ide, laboratorium solusi, dan pusat generasi yang siap memimpin perubahan. Kampus bukan hanya center of excellence, tetapi juga center of solution,” tegasnya dalam pidato wisuda perdana UHN di Tegal, Jawa Tengah, Rabu (7/5).

Sudirman menekankan bahwa ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi bukan sekadar aset pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara moral.

“Ilmu adalah amanah harus digunakan untuk membangun, menerangi, dan memuliakan kehidupan, bukan sekadar mengejar kepentingan diri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar. Dunia, kata dia, membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan akademik. “Dunia tidak hanya butuh orang pintar, tapi yang bisa bekerja dan berani bertanggung jawab,” kata Sudirman.

Sebagai bukti bahwa konsep center of solution bukan sekadar wacana, UHN telah mengambil sejumlah langkah konkret. Meski belum genap setahun berdiri dari penggabungan Politeknik Harapan Bersama dan STMIK Tegal, kampus ini sudah menjalin kerja sama internasional, termasuk dengan Harvard Medical School melalui program Primary Healthcare Impact Lab (PHIL).

Selain itu, UHN membangun berbagai pusat studi strategis, seperti Pusat Studi Perkotaan Pesisir bersama Rujak Center for Urban Studies, serta Pusat Studi Sustainabilitas dengan Global Alliance for Sustainability.

“Pusat kajian ini bukan sekadar nama, tetapi ruang untuk melahirkan solusi nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dalam aspek akses pendidikan, UHN juga membuka peluang bagi mahasiswa dari 12 provinsi melalui Beasiswa Nusantara, serta tengah menyiapkan Beasiswa ASEAN. Sudirman menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus inklusif dan tidak hanya dinikmati kalangan mampu.

Menutup pidatonya, ia menitipkan tiga bekal utama bagi lulusan: kepemimpinan masa depan, kontribusi nyata, dan menjaga nama baik almamater.

“Lulusan terbaik bukan hanya yang sukses untuk dirinya, tetapi yang mampu mengangkat orang lain dan memberi arti bagi bangsanya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini