Survei Kepuasan Prabowo Anjlok, Pengamat Singgung ‘Social Construction of Reality’

Intime – Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli menilai hasil survei SMRC yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto turun menjadi 51,1 persen belum tentu mencerminkan melemahnya pengaruh politik Prabowo.

Menurut Nasarudin, kondisi itu bisa dipahami melalui konsep social construction of reality atau konstruksi sosial realitas, yakni bagaimana persepsi publik dibentuk melalui pengelolaan informasi.

“Fenomena melemahnya pengaruh Prabowo bisa saja merupakan social construction of reality,” kata Nasarudin dalam keterangannya, Selasa (28/7).

Ia mengatakan aktor politik sering kali secara aktif mengelola persepsi publik. Bahkan, menurutnya, ada kemungkinan citra yang terlihat melemah justru sengaja dibiarkan berkembang.

“Mereka mungkin membiarkan citra mereka terlihat melemah sebagai taktik untuk menurunkan ekspektasi atau mengalihkan perhatian dari isu yang lebih besar,” ujarnya.

Nasarudin menjelaskan, realitas sosial dibentuk melalui interaksi masyarakat. Dalam sistem informasi yang berpotensi bias, peluang terciptanya persepsi yang direkayasa juga terbuka.

“Di dalam sebuah sistem seperti negara, di mana sebuah alur informasi bisa terkena bias, kemungkinan akan adanya penciptaan sebuah realitas sosial yang direkayasa secara otomatis juga hadir,” katanya.

Ia menilai narasi mengenai merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo bisa saja menjadi bagian dari strategi komunikasi politik.

“Jika kita mengacu ke pandangan di atas, maka bisa saja narasi merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo sebetulnya adalah sesuatu yang memang diharapkan dapat tersebar di benak banyak orang,” tuturnya.

Menurut Nasarudin, skenario tersebut berpotensi menciptakan kejutan ketika muncul peristiwa politik yang justru memperlihatkan besarnya pengaruh Presiden Prabowo.

Meski begitu, ia mengaku belum dapat memastikan apakah narasi tersebut merupakan strategi Prabowo sendiri atau justru dimainkan pihak lain.

“Menarik kemudian untuk dipertanyakan, jika skenario ini benar, apakah ini murni strategi dari Prabowo atau justru ada pihak lain?” ujarnya.

Nasarudin menambahkan, dalam politik modern, pengelolaan persepsi menjadi faktor penting. Karena itu, perubahan opini publik tidak selalu dapat dimaknai sebagai cerminan utuh atas kekuatan politik yang sebenarnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini