Intime – Sebanyak 103 siswa SMPN 2 Cisarua di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami gejala yang diduga akibat keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa dibawa ke RSPG Cisarua untuk mendapatkan penanganan medis, Rabu (21/10.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Fusia Meidiawaty membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia mengatakan, para siswa mendapatkan penanganan sesuai gejala yang dialami.
“Ditangani sesuai dengan gejala-gejala yang timbul. Ya, jadi untuk anak-anak yang memang terindikasi ada kemungkinan dehidrasi, maka diberikan cairan,” ujar Fusia saat ditemui di RSPG Cisarua, Rabu (21/10).
Siswa yang mengalami mual dan sakit perut ditangani sesuai keluhan dan menjalani observasi. Sementara itu, sebagian besar siswa diperkirakan dapat dipulangkan secara bertahap.
Fusia menyebut, dari 103 siswa yang mengalami gejala, satu orang terindikasi memerlukan rawat inap berdasarkan informasi yang disampaikan Bupati Bogor.
“Insya Allah nanti seperti kata Pak Bupati, sebagian besar dalam waktu dekat akan dipulangkan secara bertahap karena dari yang tadi disampaikan Pak Bupati dari 103 itu hanya satu yang terindikasi rawat inap,” katanya.
Meski demikian, penyebab kejadian tersebut belum diketahui. Dinas Kesehatan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang telah dikumpulkan.
Menurut Fusia, hasil pemeriksaan diperkirakan paling cepat keluar dalam waktu sekitar tiga hari.
“Hasil lab nanti kita akan koordinasi tapi paling sebentar itu ya mungkin sekitar tiga kali 24 jam,” ujarnya.
Fusia menegaskan, pihaknya belum bisa memastikan penyebab munculnya gejala pada para siswa sebelum hasil laboratorium keluar.
“Saya nggak berani menduga ya karena hasilnya belum ada ya,” katanya.
Petugas telah mengambil dua jenis sampel untuk diperiksa, yakni bank sampel dan sampel makanan yang dikumpulkan langsung dari lokasi kejadian.
Adapun menu MBG yang disantap siswa terdiri dari nasi, telur, wortel, jagung, sayur, dan susu UHT.
Fusia mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan apakah makanan atau minuman tertentu menjadi pemicu kejadian tersebut.
“Ya, ada susu minumannya kita masih belum bisa pastikan ya teman-teman ya, karena kita nggak boleh menduga-duga,” imbuhnya.

