Intime – Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejat yang dirilis Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menuai kritik. Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, menilai lagu tersebut mengandung narasi misoginis dan tidak mencerminkan nilai budaya Sunda.
Lewat unggahan di Instagram pribadinya pada Rabu (1/7), Atalia mengaku sulit menemukan sisi positif dari lirik lagu tersebut.
“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia.
Menurut Atalia, kritiknya bukan semata ditujukan kepada karya seni, melainkan karena lagu tersebut diciptakan oleh seorang kepala daerah yang seharusnya memiliki kepekaan terhadap persoalan kesetaraan gender.
Ia mempertanyakan mengapa Saepul memilih narasi yang dinilainya seksis, padahal bahasa Sunda memiliki banyak pilihan kata yang indah dan kaya akan pesan moral.
“Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah. Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan, mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?” katanya.
Atalia juga menegaskan budaya Sunda selama ini menjunjung tinggi nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Nilai-nilai tersebut mengajarkan masyarakat untuk saling menyayangi, membimbing, mencerdaskan, serta menjaga kehormatan sesama.
“Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi,” ujarnya.
Ia meyakini budaya Sunda tidak pernah mengajarkan masyarakat untuk menertawakan ataupun merendahkan beban biologis perempuan.
Atalia pun mengingatkan bahwa perjuangan menghapus budaya patriarki masih terus dilakukan. Karena itu, ia menyayangkan munculnya narasi yang dinilai justru memperkuat stereotip terhadap perempuan.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?” katanya.
Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat belakangan menjadi perbincangan di media sosial setelah dinilai mengandung lirik yang seksis dan memicu perdebatan mengenai representasi perempuan dalam karya seni serta kaitannya dengan nilai budaya Sunda.
Berikut lirik dan terjemahan dari lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat” ciptan Bupati Purwakarta Saepul Bahri:
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan saya menjadi laki-laki)
Cacak mun jadi awewe
(Andai menjadi perempuan)
Es-em-pe kelas tilu
(Kelas tiga SMP)
Tos karuron tujuh kali
(Sudah keguguran tujuh kali)
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan saya menjadi laki-laki)
Teu kudu meli kutang
(Tidak perlu membeli bra)
Nu busana lewih gede batan susu
(Yang busa branya lebih besar daripada payudara)
Nuhun Gusti
(Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
(Sudah menciptakan saya menjadi laki-laki)
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
(Tidak usah keluyuran mencari apotek)
Alatan telat datang bulan
(Karena telat menstruasi)
Lalaki Langit (Lelaki langit)
Lalanang bejat (Laki-laki bejat)


