Bentrok TNI dan Warga saat Perayaan Maulid Nabi di Tiro Pidie Tewaskan 1 Orang

Intime – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gampong Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (4/11), berakhir ricuh. Bentrokan yang terjadi antara warga sipil dan aparat keamanan mengakibatkan satu orang meninggal dunia serta enam lainnya mengalami luka-luka.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban meninggal dunia diidentifikasi bernama Abzalul yang diduga terkena tembakan senjata api saat ketegangan memuncak.

Kericuhan dipicu dugaan pengibaran bendera Bulan Bintang di area pelaksanaan khanduri Maulid. Situasi memanas saat sejumlah personel TNI mendatangi lokasi hingga memicu bentrokan fisik.

Insiden ini mendapat kecaman keras dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh. Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna, menilai dugaan penggunaan kekerasan bersenjata terhadap masyarakat di tengah kegiatan keagamaan merupakan bentuk pelanggaran hukum yang tidak bisa dibenarkan.

“Penggunaan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil, terlebih ketika masyarakat sedang menjalankan kegiatan keagamaan dan tradisi, merupakan persoalan serius yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujar Azharul Husna dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/11).

Azharul menekankan bahwa penanganan persoalan simbolik daerah seperti bendera Bulan Bintang seharusnya ditempatkan dalam kerangka Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Pendekatan keamanan dan tindakan represif dinilai justru berisiko merusak kestabilan perdamaian yang telah diperjuangkan di Tanah Rencong.

KontraS Aceh pun mendesak Komnas HAM, Polri, dan instansi berwenang segera membentuk tim investigasi independen untuk mengusut tuntas asal-usul tembakan serta dugaan penyalahgunaan wewenang aparat. Seluruh pihak yang terbukti melanggar hukum harus diproses secara transparan demi memberikan rasa keadilan bagi pihak korban.

Kesaksian warga lokal, Iskandar, mengindikasikan bahwa tindakan keras aparat berdampak pada warga di sekitar lokasi perayaan, termasuk istrinya yang ikut menjadi korban luka. Selain menelan korban jiwa dan luka, bentrokan tersebut juga merusak perlengkapan acara Maulid, termasuk mimbar yang telah disiapkan warga.

“Siapa pun yang berada di lokasi saat itu pasti mendapatkan penganiayaan oleh aparat,” tutur Iskandar mendeskripsikan kepanikan warga di lokasi kejadian.

KontraS mengimbau aparat keamanan agar ke depannya mengedepankan dialog persuasif dalam merespons dinamika sensitif di masyarakat Aceh. Pemerintah juga diminta menjamin seluruh biaya perawatan medis para korban luka serta memberikan pendampingan hukum dan psikologis bagi keluarga korban meninggal dunia.

Hingga naskah ini disusun, pihak TNI maupun kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi untuk mengonfirmasi kronologi mendetail, penggunaan senjata api, serta rincian data seluruh korban.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini