BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Sebesar 3,23 Persen, Komoditas Pangan Jadi Pendorong Utama

Intime – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Oktober 2026. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan mendominasi laju inflasi nasional tersebut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, laju inflasi ini dipicu oleh peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.

“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026,” kata Ateng Hartono dalam konferensi pers Rilis BPS di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi sebesar 4,82 persen dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 1,40 persen.

Komoditas dominan penopang inflasi kelompok ini meliputi cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), dan daging sapi.

Selain itu, kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 4,87 persen dengan andil 0,59 persen. Kenaikan dipengaruhi oleh harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas mesin, sepeda motor, biaya pemeliharaan kendaraan, serta mobil.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi 4,52 persen dengan andil 0,32 persen, di mana emas perhiasan menjadi komoditas pendorong utamanya.

Ditinjau dari komponennya, seluruh komponen mengalami kenaikan secara tahunan. Komponen inti (core inflation) mencatat inflasi sebesar 2,56 persen dengan andil terbesar mencapai 1,64 persen, didorong komoditas emas perhiasan, minyak goreng, nasi lauk, telepon seluler, laptop, dan oli mesin.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi 3,24 persen dengan andil 0,63 persen, yang dipengaruhi bensin, tarif angkutan udara, rokok SKM, dan bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,81 persen dengan andil 0,96 persen, yang didominasi oleh cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, tomat, dan cabai merah.

Secara spasial, BPS mencatat seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026. Laju inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Sulawesi Utara yang mencapai 8,07 persen.

Sebaliknya, wilayah dengan tingkat inflasi terendah di Indonesia berada di Provinsi DKI Jakarta, yakni sebesar 2,52 persen.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini