Intime – Kemenangan masif Partai Demokrat pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat 2026 menandai gelombang penolakan publik terhadap Elon Musk serta kejenuhan atas ekspansi industri Artificial Intelligence (AI). Kekalahan figur-figur sokongan Musk memicu guncangan hebat di bursa saham.
Musk telah menggelontorkan rekor donasi politik mencapai USD 474 juta (Rp 8,5 triliun), dengan USD 224 juta di antaranya dikucurkan khusus di Texas. Namun, jagoan Musk dari Partai Republik, Ken Paxton dan Gubernur Greg Abbott, justru tumbang di tangan kandidat Demokrat.
Sentimen negatif langsung menjebol harga saham Tesla dan SpaceX. Pasar merespons cemas peralihan peta politik Washington seiring keberhasilan Demokrat menguasai kursi mayoritas di Kongres. Hasil pemilu mencerminkan kemarahan pemilih terhadap pengaruh raksasa teknologi, ditandai dengan terpilihnya pejabat yang mendukung pembatasan fasilitas data center.
“Kita harus mengeluarkan uang besar dari politik kita, agar tak ada miliarder atau triliuner bisa membeli pemilu kita. Kita harus memperbaiki sistem ekonomi curang ini, yang hanya menguntungkan 1% kelompok teratas,” ujar senator terpilih Demokrat, James Talarico, Kamis (5/11).
Kekalahan di Texas berpotensi memukul langsung jantung bisnis Musk. Texas merupakan basis produksi kendaraan terbesar Tesla serta lokasi peluncuran roket Starbase SpaceX.
Kebijakan izin lingkungan, pasokan air, listrik, dan keringanan pajak kini berada di bawah kendali Gubernur terpilih dari Partai Demokrat, Gina Hinojosa.
Hinojosa telah mengancam bakal menghentikan insentif pajak industri, menerapkan moratorium data center, dan mewajibkan investor menanggung mandiri beban biaya energi. Dalam pidato kemenangannya, ia menegaskan komitmen untuk meredam dominasi orang-orang berkuasa yang selama ini menyetir arah kebijakan Texas.
Langkah Hinojosa merombak aturan negara bagian memang terganjal peta Legislatif yang masih dikuasai Republik. Namun, pengetatan perizinan tetap dapat menghambat rencana investasi AI dan semikonduktor yang dicanangkan Musk.
Di tingkat federal, dominasi Demokrat di Kongres menjadi ancaman serius bagi operasional Musk. Kongres berpotensi melancarkan investigasi terhadap kontrak-kontrak pemerintah dengan SpaceX, kiprahnya di Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), serta relasi bisnis korporasinya.
Walau pengawasan ketat Kongres berisiko memperlambat kucuran dana kontrak federal SpaceX, posisi Presiden Donald Trump yang menguasai lembaga eksekutif dan hak veto diyakini menjadi benteng terakhir untuk melindungi kebijakan pro-bisnis teknologi pertahanan milik Musk dari gempuran Demokrat.

