Intime – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal membantah kabar dirinya mendatangi rumah Duta Besar Singapura di Jakarta bersama Saiful Mujani pada Minggu (18/10). Dino menyebut informasi yang beredar di Instagram itu fiktif dan menilai penyebarannya terorganisasi.
Dino memberikan klarifikasi setelah banyak orang menanyakan unggahan yang menyebut dirinya bertemu dengan diplomat Singapura tersebut. Kabar itu beredar setelah Dino menyampaikan pernyataan mengenai hubungan Indonesia-Singapura.
“Karena banyak orang yang menanyakan saya mengenai hal ini saya ingin memberikan klarifikasi bahwa berita itu 100% fiktif, totally fabricated,” kata Dino.
Dia menjelaskan, pada Minggu tersebut dirinya sedang berada di Perth, Australia, selama tiga hari. Dino baru kembali ke Indonesia pada Selasa malam.
Dino berada di Perth untuk berbicara dalam sesi perubahan iklim yang digelar NLSM Global Citizen. Dia menyebut dirinya merupakan anggota Oceania Board organisasi tersebut.
Selain itu, Dino mengaku bertemu dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta selama berada di Australia.
Dino juga membantah telah mengunjungi rumah Duta Besar Singapura. Dia mengatakan sudah bertahun-tahun belum sempat datang ke rumah diplomat tersebut, meski keduanya merupakan teman baik.
Sebagai gantinya, Dino berencana menghubungi dan mengundang Duta Besar Singapura ke AKSC Library Cafe di Kemang. Dia ingin menjamu diplomat itu dengan dendeng balado buatan ibunya.
Sementara mengenai Saiful Mujani, Dino menyatakan tidak memiliki urusan dan belum pernah bertemu dengannya. Namun, dia mengaku mengetahui Saiful sebagai analis survei kuantitatif yang baik.
Dino kemudian menyinggung kemungkinan tujuan unggahan tersebut untuk menciptakan kesan dirinya tidak nasionalis dan berkolusi dengan Singapura.
Dia menegaskan telah mengabdi kepada negara selama 28 tahun. Dino juga menyebut menerima dua Bintang Mahaputra, salah satunya dari Presiden Prabowo Subianto, serta satu Bintang Jasa Utama.
Dino turut mengingatkan latar belakang keluarganya. Dia mengatakan ayahnya memperjuangkan Wawasan Nusantara hingga konsep tersebut menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Indonesia.
Menurut Dino, unggahan tersebut mencerminkan modus baru berupa penyebaran berita fiktif melalui sejumlah akun yang dibuat sendiri dan tidak diketahui identitas pengelolanya.
Dia menyebut pola itu sebagai “tim siluman” dan menilai ada aksi terorganisasi serta pihak yang mendukungnya.
Dino menganggap praktik tersebut berpotensi menjadi intimidasi terhadap kebebasan berpendapat. Dia berencana membawa persoalan itu kepada Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Dino berharap pemerintah dapat melindungi masyarakat dari intimidasi serta pengaburan fakta di media sosial.

