Intime – Ekonom senior Ferry Latuhihin menilai rencana pemerintah menerbitkan Patriot Bond bakal sulit menarik investor jika kupon yang ditawarkan lebih rendah dibandingkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Menurut Ferry, investor akan memilih instrumen investasi yang memberikan keuntungan lebih tinggi. Karena itu, Patriot Bond dinilai harus menawarkan kupon di atas yield SBN agar mampu bersaing.
“Tidak akan laku. Duit bersih cuma mau masuk kalau kuponnya di atas yield SBN,” kata Ferry kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/6).
Saat ini, yield SBN acuan tenor 10 tahun berada di kisaran 7,18 persen. Sementara imbal hasil SBN ritel yang baru diterbitkan berkisar antara 5 persen hingga 6,5 persen per tahun.
Ferry menilai apabila Patriot Bond hanya menawarkan kupon sekitar 2 persen, investor akan lebih memilih membeli SBN yang sudah memiliki rekam jejak dan menawarkan imbal hasil lebih menarik.
“Kalau kuponnya cuma 2 persen ya mendingan beli SBN,” ujarnya.
Selain soal daya tarik investasi, Ferry juga menanggapi dugaan Patriot Bond bisa menjadi tempat masuknya dana ilegal atau hasil pencucian uang. Menurut dia, skenario tersebut justru sulit terjadi.
Ia berpendapat pelaku pencucian uang akan berpikir dua kali untuk menempatkan dananya pada instrumen yang berada di bawah pengelolaan Danantara.
“Duit kotor juga takut masuk. Takut tidak dibayar balik Danantara. Bisa ilang itu duit,” sindir Ferry.
Menurut Ferry, ada kemungkinan pengelola nantinya menyatakan dana yang digunakan investor berasal dari aktivitas ilegal sehingga pengembalian dana berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
“Danantara bisa aja bilang duit sampeyan duit kotor. Kalau gue balikin, gue bisa kena perkara money laundry,” katanya.
Karena itu, Ferry menilai tantangan utama Patriot Bond bukan hanya menawarkan tingkat kupon yang kompetitif, tetapi juga membangun kepercayaan investor terhadap instrumen baru tersebut.
Tanpa dua faktor itu, menurutnya, Patriot Bond akan sulit bersaing dengan SBN yang selama ini menjadi pilihan utama investor di pasar obligasi domestik.


