Intime – Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) menegaskan warisan terbesar Ali Sadikin bukan hanya pembangunan fisik ibu kota, melainkan keberaniannya menempatkan kebudayaan sebagai hak publik yang wajib dijamin negara.
Hal itu disampaikan Foke saat menjadi pembicara dalam Memorial Lecture penutup rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang berlangsung pada 7–14 Juli 2026.
Menurut Foke, sejak 1968 Ali Sadikin telah memandang kebudayaan sebagai public good atau barang publik yang kedudukannya sejajar dengan layanan pendidikan dan kesehatan.
“Kebudayaan adalah barang publik. Tidak harus mendatangkan keuntungan, tetapi wajib ada,” kata Foke, Kamis (16/7).
Prinsip itulah yang melandasi berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta. Foke menceritakan, ide pembangunan TIM berawal dari pertanyaan sederhana Ali Sadikin mengenai ruang berkumpul para seniman setelah kawasan Senen tak lagi menjadi pusat aktivitas mereka.
Dari pertanyaan itu, Ali Sadikin kemudian memutuskan membangun ruang kreatif di kawasan bekas Kebun Binatang Cikini yang kini dikenal sebagai TIM.
Bagi Ali Sadikin, lanjut Foke, tugas pemerintah bukan mengatur isi karya seni, melainkan menyediakan ruang agar para seniman dapat berkarya secara bebas.
“Pemerintah tidak boleh ikut campur. Biarkan seniman merdeka dalam mencipta,” ujar Foke mengutip pesan Ali Sadikin.
Menurutnya, visi tersebut menjadikan TIM bukan sekadar gedung pertunjukan, melainkan simbol komitmen pemerintah dalam menjaga ekosistem kebudayaan.
Foke juga mengenang Ali Sadikin sebagai pemimpin yang selalu berpikir jauh ke depan. Selain membangun sektor kebudayaan, Bang Ali menjadi pelopor penggunaan komputer di lingkungan pemerintahan pada 1969 dan menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.
“Kalau beliau sudah yakin dengan suatu gagasan, beliau akan mempertahankannya secara konsisten,” kenangnya.
Di akhir paparannya, Foke mengusulkan agar Memorial Lecture Ali Sadikin dijadikan agenda tahunan sebagai bagian dari perjalanan menuju 500 tahun Kota Jakarta. Menurutnya, pemikiran Ali Sadikin mengenai kebebasan berkarya dan pelestarian budaya tetap relevan untuk membangun Jakarta sebagai kota global yang tidak kehilangan identitas budayanya.
“Sampai hari ini, tidak ada simbol yang lebih kuat menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki,” pungkasnya.

