Intime – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, wacana mengenai sosok yang layak menduduki jabatan Rais Aam PBNU mulai mengemuka. Tokoh muda NU, Khalilur R. Abdullah Sahlawy atau Gus Lilur, mengingatkan bahwa pemimpin tertinggi Syuriyah PBNU harus dipilih berdasarkan standar keilmuan, karya, pengabdian, dan keteladanan sebagaimana dicontohkan para pendiri NU.
Menurut Gus Lilur, sejarah telah memberikan ukuran yang jelas mengenai sosok Rais Aam ideal melalui keteladanan tiga ulama besar NU, yakni KH M. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Rais Aam kedua, dan KH Bisri Syansuri sebagai Rais Aam ketiga.
“Kita bisa menarik patokan tentang siapa yang layak menjadi Rais Aam. Patokan ini bukan rumusan saya, tetapi terbaca sendiri dari sejarah,” ujar Gus Lilur kepada wartawan, Senin (6/7).
Ia menjelaskan, KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama hadits dengan sanad keilmuan yang kuat setelah berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syekh Mahfudz at-Tarmasi di Makkah. Selain melahirkan berbagai karya monumental, Hadratussyekh juga dikenang sebagai penggagas Resolusi Jihad yang menjadi tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sementara itu, KH Abdul Wahab Chasbullah dinilai sebagai ulama visioner yang melahirkan berbagai organisasi seperti Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, hingga Komite Hijaz. Melalui Komite Hijaz, Kiai Wahab berhasil memperjuangkan kebebasan umat Islam bermadzhab dalam menjalankan amaliahnya di Tanah Suci.
Adapun KH Bisri Syansuri dikenang sebagai faqih yang memberikan terobosan di bidang pendidikan dan hukum Islam, termasuk menjadi pelopor pendidikan pesantren bagi perempuan serta ulama yang lebih awal membolehkan program keluarga berencana dalam perspektif fiqih.
Menurut Gus Lilur, ketiga tokoh tersebut memiliki empat karakter utama yang semestinya menjadi tolok ukur dalam memilih Rais Aam PBNU.
“Pertama, kedalaman ilmu agama dengan sanad keilmuan yang jelas. Otoritas mereka tidak lahir dari jabatan, tetapi jabatan justru mendatangi otoritas mereka,” katanya.
Selain memiliki kedalaman ilmu, seorang Rais Aam juga harus meninggalkan karya nyata yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai warisan intelektual maupun pengabdian kepada organisasi.
“Seorang Rais Aam harus bisa ditunjuk karyanya. Apa kitabnya, apa pesantrennya, apa fatwanya, dan apa kader yang telah dilahirkannya,” tegasnya.
Gus Lilur juga menilai rekam jejak pengabdian kepada umat dan bangsa menjadi syarat yang tidak bisa ditawar.
“Resolusi Jihad, Komite Hijaz, hingga pendidikan perempuan menunjukkan bahwa kiprah para pendiri NU melampaui kepentingan pribadi maupun kelompok,” ujarnya.
Tak kalah penting, menurutnya, seorang Rais Aam harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan organisasi.
“Ketiganya hidup sederhana, menjaga lisan, dan menempatkan organisasi di atas ambisi pribadi. Meski berbeda pandangan, mereka tidak pernah membiarkan perbedaan itu merobek jam’iyyah,” ungkap Gus Lilur.
Ia mengibaratkan posisi Rais Aam sebagai imam dalam salat yang harus memiliki bacaan terbaik, ilmu paling mendalam, serta sifat wara’. Karena itu, warga NU berhak memastikan bahwa pemimpin tertinggi Syuriyah benar-benar memiliki kapasitas keilmuan dan moral yang tinggi.
Gus Lilur juga menegaskan bahwa tingginya kedudukan Rais Aam menjadi dasar diterapkannya mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yang pertama kali digunakan pada Muktamar ke-33 di Jombang tahun 2015. Melalui sistem tersebut, Rais Aam dipilih melalui musyawarah sembilan ulama yang memenuhi syarat ketat sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar NU.
Menutup pernyataannya, Gus Lilur mengajak seluruh muktamirin menjadikan teladan para pendiri NU sebagai acuan dalam menentukan anggota AHWA maupun memilih Rais Aam pada Muktamar ke-35.
“Kedalaman ilmu, karya nyata, pengabdian kepada umat dan bangsa, serta keteladanan merupakan empat pilar utama yang harus dimiliki calon pemimpin tertinggi PBNU agar mampu menjaga marwah organisasi sekaligus menjadi rujukan keagamaan bagi jutaan nahdliyin,” pungkasnya.


