Intime – Pasar keuangan domestik membuka perdagangan Kamis (18/6) pagi dengan tekanan yang cukup kuat. Setelah nilai tukar rupiah melemah 94 poin atau 0,53% ke level Rp17.856 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga dibuka turun 28,85 poin atau 0,46% ke posisi 6.191,89.
Pelemahan juga terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 tercatat turun 5,28 poin atau 0,84% menjadi 619,95, menandakan aksi jual masih mendominasi saham-saham berkapitalisasi besar.
Koreksi yang terjadi secara bersamaan pada pasar saham dan nilai tukar rupiah menunjukkan meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko. Pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen eksternal, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), hingga ketidakpastian geopolitik global yang mendorong investor mencari instrumen yang lebih aman.
Pelemahan rupiah turut menjadi faktor yang menekan pasar saham karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan kinerja sejumlah emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku maupun utang dalam mata uang asing.
Meski demikian, sejumlah analis menilai tekanan yang terjadi saat ini masih lebih dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan fundamental domestik. Stabilitas ekonomi nasional, inflasi yang relatif terkendali, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjadi penopang bagi pasar keuangan dalam jangka menengah.
Ke depan, pergerakan IHSG dan rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi mengikuti perkembangan sentimen global. Investor akan mencermati data ekonomi internasional dan langkah otoritas moneter dalam menjaga stabilitas pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.


