Intime – Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas menyoroti jawaban Joko Widodo (Jokowi) soal peluang Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjabat dua periode. Jokowi sebelumnya menyebut pemilihan presiden (Pilpres) 2029 masih jauh.
Fernando menilai jawaban tersebut menjadi sinyal bahwa Jokowi mulai memantapkan langkah politiknya sendiri dan tidak lagi menjadikan Prabowo sebagai bagian dari rencana politiknya.
“Tentu jawaban tersebut bukan karena Jokowi kehilangan harapan memasangkan Gibran Rakabuming Raka dengan Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 yang akan datang, tetapi semakin mantap membuat poros sendiri,” kata Fernando dalam keterangannya, Senin (12/10).
Fernando menduga Jokowi telah membaca potensi politik ke depan dan memperhitungkan kemungkinan perubahan peta persaingan menuju Pilpres 2029.
Ia bahkan menilai Jokowi memiliki keyakinan bahwa Prabowo belum tentu menjadi peserta kontestasi tersebut. Meski begitu, pandangan itu merupakan analisis Fernando, bukan pernyataan resmi Jokowi.
Fernando kemudian mengaitkan penilaiannya dengan pertemuan sekitar dua jam di kawasan Jalan Kertanegara. Ia mengklaim pertemuan tersebut membuat Jokowi meragukan kemampuan Prabowo menyelesaikan masa jabatan hingga 2029.
Fernando juga menyoroti situasi politik dan ekonomi yang dinilainya semakin tidak menentu. Menurut dia, kegelisahan masyarakat dan harapan terhadap perbaikan ekonomi yang belum terpenuhi bisa mendorong munculnya gerakan masyarakat sipil yang menginginkan perubahan kepemimpinan.
Selain itu, ia mempertanyakan efektivitas kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Fernando menilai penghematan belanja harus tercermin dalam manfaat nyata bagi masyarakat, bukan justru dibarengi penambahan perangkat pendukung pemerintahan.
“Jokowi tentu sudah melihat kegelisahan rakyat karena situasi yang tidak menentu serta harapan perbaikan ekonomi yang tidak kunjung tiba,” ujarnya.
Fernando turut menyinggung polemik ijazah Gibran. Menurut dia, isu tersebut berpotensi memengaruhi dinamika dukungan politik menjelang Pilpres 2029 dan menjadi salah satu faktor dalam pembentukan poros baru.
Meski demikian, belum ada kepastian bahwa Jokowi akan membentuk poros politik sendiri atau tidak mendukung pasangan Prabowo-Gibran. Peta koalisi dan kandidat Pilpres 2029 juga masih dapat berubah seiring perkembangan politik nasional.

