Intime – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) diharapkan menjadi penggerak ekonomi desa dengan membuka peluang usaha dan memperluas akses pemasaran bagi masyarakat.
Kehadiran koperasi tidak hanya memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpotensi mendukung pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan kegiatan produksi petani.
Manfaat tersebut dirasakan Jainah, anggota KDKMP Desa Dukuhrejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Selain menjadi penerima manfaat bantuan sosial, Jainah juga merupakan pelaku UMKM yang memproduksi keripik kentang.
Jainah mengatakan, sebelum ada koperasi, pemasaran produknya masih terbatas dan bergantung pada aktivitas pasar pagi. Kehadiran KDKMP kini memberikan alternatif tempat untuk menitipkan produk sehingga peluang pemasarannya dapat berlangsung lebih panjang.
“Sebelum ada kooperasi kan saya hanya memasarkan UMKM saya di pasar, dan itu kan hanya bergantung pasar pagi saja ya. Setelah ada kooperasi kan bisa dititipkan di kooperasi dan itu bisa jangka panjang,” ujar Jainah seperti dikutip, Jumat (30/10).
Menurutnya, keberadaan koperasi juga memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lokasinya yang lebih dekat serta harga barang yang relatif lebih ringan dinilai dapat membantu masyarakat, termasuk pelaku UMKM, menekan pengeluaran.
“Perbedaannya setelah ada kooperasi dan sebelum ada kooperasi, setelah ada kooperasi itu menjadi lebih mudah, lebih dekat dari lokasi rumah, harganya juga lebih ringan, jadi untuk UMKM keuntungannya akan lebih besar,” katanya.
Jainah berharap KDKMP dapat terus berkembang dan menjadi wadah yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya secara berkelanjutan.
Manfaat KDKMP bagi sektor pertanian juga menjadi harapan masyarakat di Desa Karangsari, Blitar, Jawa Timur. Legiman, petani belimbing yang telah puluhan tahun mengelola lahan pertanian di wilayah tersebut, berharap koperasi dapat mempermudah petani memperoleh kebutuhan produksi, khususnya pupuk.
Selama ini, petani harus membeli pupuk di toko yang berjarak sekitar empat kilometer dari lokasi pertanian. Dengan adanya gedung KDKMP di wilayah tersebut, Legiman berharap nantinya tersedia gerai pupuk sehingga petani tidak perlu menempuh jarak jauh untuk memenuhi kebutuhan lahannya.
“Alhamdulillah, itu memang permintaannya semua petani itu kalau bisa ya semuanya itu segera saja pupuk itu bisa disubsidi di sini, entah itu dipinjami dulu atau harus harus bayar, itu juga enggak apa-apa yang jelas. Kalau di sini kan pasti lebih dekat, tidak perlu kemana-mana dan tidak perlu angkutan untuk beli pupuknya,” ujar Legiman.
Selain mempermudah akses pupuk, Legiman juga berharap koperasi dapat membantu pemasaran hasil pertanian, khususnya buah belimbing yang dihasilkan petani setempat.
Selama ini, hasil panen belimbing lebih banyak dijual langsung kepada pengunjung yang datang ke lokasi kebun. Penjualan langsung kepada pengunjung dapat mencapai Rp10.000 per kilogram, sedangkan harga kepada pedagang sekitar Rp6.500 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut terjadi karena pengunjung biasanya memilih buah berukuran besar, sementara pedagang membeli buah dengan berbagai ukuran. Legiman berharap koperasi nantinya dapat menjadi alternatif saluran pemasaran sehingga hasil pertanian memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
“Ya mudah-mudahan nanti dari kooperasi itu bisa membantu penjualan,” katanya.
Ia juga berharap keberadaan koperasi dapat memberikan manfaat timbal balik bagi petani dan masyarakat desa. “Ya mudah-mudahan kita saling membantulah. Kooperasi itu nanti bisa biar tetap berjalan. Juga bisa membantu petani, istilahnya itu menyuple pupuk dari situ,” tutur Legiman.
Kehadiran KDKMP diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi desa dengan menghubungkan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Mulai dari pemenuhan kebutuhan produksi petani, pemasaran hasil pertanian, hingga perluasan akses pasar bagi produk UMKM.

