Komisi B DPRD Apresiasi Langkah PAM JAYA Tekan NRW, Dukung Market Sounding Peremajaan Pipa Rp22,8 Triliun

Intime – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat upaya peningkatan layanan air bersih. Salah satunya melalui langkah PAM JAYA menekan angka Non-Revenue Water (NRW) atau kehilangan air yang mendapat apresiasi dari Komisi B DPRD DKI Jakarta usai meninjau reservoir PAM JAYA di Pondok Kopi, Jakarta Timur, dan Cilincing, Jakarta Utara.

Kunjungan kerja tersebut dipimpin Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh bersama anggota Komisi B, yakni M Taufik Zoelkifli, Ade Suherman, Wa Ode Herlina, Pandapotan Sinaga, Jupiter, Wita Susilowati, dan Francine Eustacia.

Nova mengatakan, peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut rapat kerja Komisi B bersama PAM JAYA yang sebelumnya membahas strategi penurunan NRW. Dalam kesempatan itu, rombongan juga melihat langsung reservoir berkapasitas sekitar 5 juta liter di Pondok Kopi dan 20 juta liter di Cilincing yang berfungsi memperkuat pasokan air bersih bagi Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

“Peninjauan ini merupakan tindak lanjut rapat kerja kami bersama PAM JAYA terkait Non-Revenue Water. Tadi Pak Direktur Utama menjelaskan bahwa NRW tidak hanya berkaitan dengan kebocoran pipa seperti yang selama ini dipahami masyarakat,” kata Nova di Jakarta, Selasa (28/7).

Menurut Nova, berdasarkan penjelasan PAM JAYA, NRW terdiri atas tiga komponen, yakni konsumsi resmi tak berrekening (unbilled authorized consumption), kehilangan komersial (commercial loss), dan kehilangan fisik (physical loss). Ketiga komponen tersebut menjadi dasar penghitungan tingkat kehilangan air.

Selain itu, Komisi B juga menekankan pentingnya memperluas sambungan rumah agar air yang telah diproduksi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Jangan sampai air hanya mengalir atau tersimpan di jaringan pipa tanpa tersambung ke rumah-rumah warga. Dengan bertambahnya sambungan rumah, diharapkan angka NRW dapat terus ditekan,” ujarnya.

Nova juga mengapresiasi rencana PAM JAYA melakukan market sounding untuk mencari skema pendanaan peremajaan jaringan pipa. Menurutnya, langkah tersebut merupakan solusi strategis mengingat penggantian jaringan pipa sepanjang sekitar 13.000 kilometer di Jakarta membutuhkan investasi sekitar Rp22,8 triliun.

“Saya melihat langkah yang disiapkan PAM JAYA cukup komprehensif dalam menyelesaikan persoalan kehilangan air. Kami tentu mengapresiasi kerja keras PAM JAYA dalam menurunkan angka NRW,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin menegaskan penurunan NRW menjadi salah satu program prioritas perusahaan. Ia menjelaskan, definisi NRW mengacu pada Peraturan Menteri PUPR Nomor 18 Tahun 2007 yang membagi kehilangan air ke dalam tiga kategori, yakni konsumsi resmi tak berrekening, kehilangan komersial, dan kehilangan fisik.

Arief mengungkapkan, PAM JAYA menargetkan market sounding dilaksanakan pada Desember 2026 sebagai langkah awal menjajaki investasi penggantian jaringan pipa.

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan market sounding. Targetnya sekitar bulan Desember. Namun kami harus berhati-hati karena kebutuhan investasinya sangat besar. Seluruh skema investasi harus dihitung secara cermat agar memberikan pengembalian yang memadai melalui skema business to business (B2B),” ujar Arief.

Ia memastikan kondisi keuangan PAM JAYA saat ini tetap sehat sehingga setiap keputusan investasi akan dilakukan secara matang dan penuh kehati-hatian.

“Seluruh perhitungan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar program ini berjalan dengan baik, sesuai arahan Ketua Komisi B dan masukan dari seluruh anggota Komisi B yang melakukan kunjungan hari ini,” tutupnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini