Oleh : Koordinator MPK HMI Periode 2024–2026, Arri Edimar
Sekitar sebulan menjelang Kongres XXXIII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang dijadwalkan berlangsung mulai 28 November 2026 di Bandar Lampung, suhu politik Himpunan semakin terasa. Para kandidat menempuh perjalanan panjang, mengunjungi cabang demi cabang, membangun dukungan, dan mengonsolidasikan kekuatan.
Belakangan ini, saya cukup sering ngopi bersama kader yang sedang mempersiapkan diri menjadi kandidat Ketua Umum PB HMI. Saya selalu tertegun mendengar cerita mereka. Tentang perjalanan yang melelahkan, dukungan politik yang harus diperjuangkan, kebutuhan finansial yang mesti diupayakan, serta silaturahmi dengan para senior yang diharapkan dapat turut membantu perjuangan mereka.
Menjadi kandidat Ketua Umum PB HMI rupanya bukan pekerjaan sederhana. Ada begitu banyak kecakapan yang dibutuhkan, hubungan yang mesti dirawat, dan tidak sedikit ketidakpastian yang harus dihadapi. Dari percakapan-percakapan itu, pikiran saya justru melayang jauh ke belakang. Membayangkan masa-masa ketika mereka pertama kali menjadi kader HMI, menjalani kehidupan di komisariat, beraktivitas di cabang, menggauli PB HMI, hingga memperoleh berbagai pengalaman kepemimpinan.
Sebab, mereka tentu tidak tiba-tiba memiliki kemampuan mengorganisasi, keluasan berpikir, ketahanan mental, dan kecakapan membaca keadaan hanya karena memutuskan menjadi kandidat. Begitu pula keberanian mengambil keputusan, kesanggupan menghadapi penolakan, serta kemampuan membangun kepercayaan dan merawat persahabatan. Semuanya mempunyai sejarah pembentukannya sendiri.
Barangkali mereka sendiri tidak selalu menyadari kapan kemampuan itu mulai terbentuk. Kapan sebuah perdebatan mengubah cara berpikir, kapan kegagalan mengajarkan ketabahan, atau kapan persahabatan tumbuh menjadi kepercayaan yang bertahan bertahun-tahun. Ada pula reputasi yang lahir dari kebaikan-kebaikan yang mungkin telah dilupakan pelakunya, tetapi tetap hidup dalam ingatan orang lain.
Tidak semua pengalaman itu menyenangkan. Tidak pula semuanya menghasilkan kualitas yang sama. Namun, sedikit banyak, pengalaman tersebut membentuk bekal yang dibawa seseorang ketika memasuki gelanggang yang lebih luas. Satu hal menarik untuk direnungkan, proses kandidasi sesungguhnya memperlihatkan sebagian hasil perjalanan panjang kehidupan berhimpun.
Kita mengenal perkaderan melalui Basic Training, Intermediate Training, Advanced Training, Senior Course (SC), serta berbagai kurikulum dan pedoman organisasi. Tetapi kehidupan seorang kader sesungguhnya jauh lebih luas daripada apa yang diajarkan dalam forum-forum tersebut.
Ada pergulatan pemikiran ketika sebuah bacaan mengguncang keyakinan yang selama ini dianggap benar. Ada pencarian spiritual ketika pengetahuan tentang nilai-nilai luhur berhadapan dengan kenyataan hidup yang tidak selalu mudah dipahami. Ada benturan antara idealisme dan kepentingan, antara kesetiaan kepada sahabat dan keberanian mempertahankan prinsip.
Dalam perjalanan itu, seorang kader tidak hanya belajar memahami dunia di luar dirinya. Ia juga belajar mengenali dirinya sendiri. Tentang ambisi yang perlu dikendalikan, keterbatasan pengetahuan yang mesti diakui, dan keyakinan yang kadang harus diuji kembali. Sebagian pengalaman memperteguh pendirian, sebagian lainnya justru melahirkan keraguan dan kegelisahan. Dari pergulatan itulah kesadaran, watak, dan cara memandang kehidupan perlahan terbentuk.
Ilmu pendidikan mengenal istilah hidden curriculum, kurikulum tersembunyi. Seseorang tidak hanya mempelajari apa yang diajarkan secara resmi, tetapi juga menyerap nilai dan kebiasaan dari lingkungan tempat ia tumbuh. Dalam kehidupan HMI, pembelajaran itu berlangsung melalui pergaulan, keteladanan senior, tradisi berdiskusi, cara mengambil keputusan, bahkan melalui perilaku yang dibiarkan menjadi kebiasaan.
Dua kader boleh saja mempelajari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang sama, mendalami tauhid, kemanusiaan, keadilan sosial, dan pentingnya ilmu pengetahuan. Namun, pengalaman berhimpun yang berbeda dapat membentuk cara yang berbeda pula dalam menghayati dan menjalankan nilai-nilai tersebut.
Seorang kader mungkin tumbuh dalam lingkungan yang menghargai kebebasan berpikir dan keberanian berbeda pendapat. Kader lainnya boleh jadi lebih akrab dengan kebiasaan yang menempatkan kesetiaan kepada figur di atas kekuatan argumentasi. Keduanya mengenal nilai-nilai perjuangan yang sama, tetapi kehidupan organisasi mengajarkan pengalaman yang berbeda. Barangkali di sinilah kongres menemukan maknanya yang lebih dalam.
Kongres merupakan titik temu
Arena kongres mempertemukan pengalaman intelektual, pergulatan batin, kecakapan berorganisasi, persahabatan, jejaring, dan berbagai kepentingan yang tumbuh sepanjang perjalanan perkaderan.
Para kandidat datang membawa gagasan, kemampuan, reputasi, serta jaringan yang dibangun selama berhimpun. Bersama mereka hadir tim pendukung yang mengerahkan solidaritas, kecakapan mengorganisasi, dan strategi untuk memperjuangkan sebuah pilihan. Dalam proses itu, mereka pun belajar tentang kepercayaan, kesetiaan, persaingan, dan kemungkinan menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan.
Panitia memikul tanggung jawab yang berbeda. Mereka harus mengelola forum besar dengan berbagai kepentingan yang saling berhadapan. Di tangan mereka, ketertiban, profesionalitas, dan keadilan penyelenggaraan tidak lagi menjadi sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang harus diwujudkan, termasuk ketika keputusan tidak dapat menyenangkan semua pihak.
Para senior dan alumni hadir dengan sejarah panjang, pengalaman, pengaruh, serta sumber daya yang dimiliki. Dukungan mereka dapat menjadi wujud persaudaraan yang memperkuat generasi berikutnya. Tetapi di sana pula terdapat tanggung jawab menjaga kemandirian kader, agar pengalaman para pendahulu menjadi sumber pembelajaran, bukan belenggu bagi pilihan generasi yang sedang tumbuh.
Perenungan serupa berlaku bagi kami yang memperoleh amanah di MPK. Cara mengawal konstitusi, memberikan pertimbangan, dan menjalankan pengawasan juga menjadi bagian dari kebudayaan perkaderan yang disaksikan dan dipelajari kader.
Mereka semua datang membawa perjalanan masing-masing. Di dalam kongres, pengetahuan dan nilai yang selama ini diyakini berhadapan dengan tanggung jawab yang nyata. Mereka bukan hanya memperlihatkan hasil perkaderan sebelumnya, tetapi juga sedang menjalani proses perkaderan berikutnya.
Lalu, bagaimana dengan para utusan cabang? Anggaran Rumah Tangga HMI, Pasal 9 dan 10, menempatkan kongres sebagai musyawarah utusan cabang-cabang yang memegang kekuasaan tertinggi organisasi. Selain meminta pertanggungjawaban Pengurus Besar dan memilih kepemimpinan, kongres berwenang menetapkan AD/ART, pedoman organisasi, program kerja nasional, serta rekomendasi. Mandat sebesar itu tentu tidak cukup dijalankan hanya dengan membawa hak suara.
Saya membayangkan setiap utusan cabang datang dengan segudang kegelisahan tentang Himpunan. Kegelisahan yang tumbuh dari kontemplasi pribadi, dari pergumulan panjang bersama pengurus cabang, dari percakapan di sekretariat komisariat, atau dari pengalaman berhadapan langsung dengan persoalan-persoalan perkaderan.
Tentu, kegelisahan saja tidak cukup. Ia perlu bertemu dengan pengetahuan, diuji melalui perdebatan, dan dipertanggungjawabkan dalam sebuah gagasan. Kegelisahan yang semula hidup dalam pikiran kader dipertemukan dengan kegelisahan kader lainnya. Dari proses itulah diharapkan lahir kesepahaman, yang selanjutnya dirumuskan dan didokumentasikan dalam naskah-naskah ketetapan kongres, konstitusi, pedoman organisasi, program kerja, dan rekomendasi yang akan menjadi pegangan perjalanan HMI berikutnya.
Dengan demikian, kongres bukan hanya tempat memilih siapa yang akan memimpin HMI, tetapi juga tempat merumuskan dokumen HMI seperti apa yang hendak kita bangun.
Ketua umum yang terpilih tentu mempunyai peran penting dalam memberi wajah dan arah kepada Himpunan. Ke mana energi dan kekuatan organisasi digerakkan, persoalan apa yang memperoleh perhatian, serta bagaimana kepemimpinan memberi keteladanan, akan turut memengaruhi kehidupan perkaderan di bawahnya. Namun arah itu tidak dapat dilepaskan dari cita-cita dan keputusan kolektif Himpunan yang dirumuskan melalui kongres.
Terlebih, pada 2027 HMI memasuki usia 80 tahun. Dua puluh tahun kemudian, pada 2047, Himpunan akan mencapai satu abad perjalanan sejarahnya. Satu abad HMI kelak bukan hanya ditentukan oleh siapa saja yang pernah memimpinnya, melainkan juga oleh apa yang terus dipelihara dan diperbarui dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang layak mendapat ruang lebih luas dalam forum-forum kongres. Sebab keputusan yang dirumuskan pada saat kongres semestinya tidak hanya menjawab kebutuhan satu periode kepemimpinan, tetapi juga membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk menghadapi persoalan yang bahkan belum kita kenali.
Kelak kongres akan berakhir. Ketua umum terpilih, berbagai ketetapan disahkan, dan para peserta kembali ke daerahnya masing-masing. Mereka akan membawa pulang keputusan-keputusan organisasi. Tetapi mereka juga membawa sesuatu yang tidak tercetak dalam dokumen kongres: pengalaman tentang bagaimana HMI memperlakukan gagasan, persahabatan, perbedaan, kekuasaan, dan amanah. Yang pertama akan tersimpan dalam arsip organisasi. Yang kedua akan hidup dalam ingatan, kebiasaan, dan cara generasi berikutnya berhimpun.
Barangkali itulah makna kongres sebagai titik temu Himpunan. Kita datang membawa sejarah perkaderan masing-masing, mempertemukan kegelisahan dan gagasan, menjalani tanggung jawab bersama, lalu ikut menuliskan perjalanan HMI selanjutnya.
Selamat berkongres HMI, Yakin Usaha Sampai

