Intime – Proyek Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah, merupakan salah satu program strategis pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto. Proyek di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini dirancang sebagai percontohan nasional untuk penerapan budi daya udang secara modern, terpadu, dan ramah lingkungan.
Menjadi salah satu kawasan budi daya udang terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 100 hektare, BUBK Kebumen menerapkan teknologi presisi guna meningkatkan produktivitas udang, menekan risiko gagal panen, serta menyerap tenaga kerja lokal terdidik.
Keberhasilan operasional di kawasan ini tak lepas dari peran para teknisi budi daya di lapangan. Salah satunya Faiz Alfarizi (26 tahun). Lulusan Politeknik Ahli Usaha Perikanan Jakarta ini setiap pagi bertanggung jawab memantau kondisi kolam budi daya, mulai dari tahap persiapan, pengawasan kualitas air, kecukupan pakan, hingga memonitor kesehatan udang agar terhindar dari penyakit.
“Keseharian saya itu memantau kolam. Kalau sudah ada udangnya, kita memonitor kualitas air, kesehatan udang, kemudian juga pakan,” kata Faiz.
Salah satu rutinitas penting yang dia lakukan adalah siphon, yaitu proses membersihkan sisa pakan dan kotoran di dasar kolam agar lingkungan budi daya udang tetap terjaga. Pengawasan ketat ini menjadi krusial mengingat produk udang BUBK Kebumen ditargetkan memenuhi standar kualifikasi pasar ekspor.
“Sehingga, kita harus menjaga betul kualitasnya, (agar) terhindar dari virus ataupun hal-hal lain yang tidak memungkinkan,” jelas Faiz.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah faktor cuaca. Cuaca berdampak langsung pada kondisi air kolam. Melalui pembinaan dan pelatihan yang diterima sebelum bertugas, Faiz dan tim teknisi telah dibekali penanganan khusus untuk menyesuaikan perlakuan kolam saat musim hujan maupun musim panas.
“Cuaca berpengaruh langsung terhadap kualitas air. Musim hujan (dan) musim panas itu perlakuannya berbeda,” ujarnya.
Pekerjaan sebagai teknisi budi daya di tanah kelahiran menjadi titik temu antara latar belakang pendidikan Faiz dengan kebutuhan industri perikanan saat ini. Kehadiran BUBK Kebumen terbukti membawa dampak ganda: menjaga kualitas komoditas ekspor udang sekaligus memberikan kemandirian finansial bagi putra daerah.
“Selesai kuliah, kebetulan ada lowongan kerja di sini, alhamdulillah diterima. Dampak positifnya, selain dekat dengan orang tua, saya sudah memiliki penghasilan sendiri, mandiri, dan bisa membantu keluarga,” tutur Faiz.
Ia pun berharap BUBK Kebumen dan sektor perikanan Indonesia terus berkembang secara inovatif hingga menjadi percontohan di tingkat global. Tak lupa, ia menyampaikan apresiasinya atas ruang berkarya yang telah disediakan oleh pemerintah.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo dan Menteri Perikanan atas hadirnya BUBK ini. (Proyek ini) menjadi sumber penghasilan bagi kami para pekerja di daerah. Harapannya ke depan semakin maju, inovatif, dan bisa menjadi percontohan di dunia,” kata Faiz.
BUBK Kebumen sudah memasuki siklus panen kedelapan hingga akhir Juli 2026. Produksi udang yang dihasilkan dari siklus panen kedelapan ini mencapai 254,5 ton dengan kualitas ekspor. Ukuran udang antara 22 – 30 ekor per kilogramnya. Dan harga jual rata-rata Rp 70 ribu per kilogram.
Pada pertengahan Juli 2026, BUBK Kebumen juga memulai siklus kesembilan. Total ditebar sebanyak 10,24 juta ekor benur pada 34 petak. Hingga kini, BUBK Kebumen sudah menyerap tenaga kerja sebanyak 645 orang yang semuanya adalah tenaga kerja lokal.
Kisah Faiz Alfarizi dan operasional teknis BUBK Kebumen dalam mendukung modernisasi perikanan nasional dapat disaksikan selengkapnya hanya dalam program Podcast Sinergi Indonesia di YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.

