Intime – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026. Tahun ini, PBNU mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.
Sekretaris Jenderal PBNU Gus Gudfan Arif mengatakan, tema tersebut menegaskan pentingnya peran santri dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus berkontribusi dalam merawat persatuan Indonesia.
Menurut dia, kemajuan zaman tidak seharusnya membuat santri kehilangan akar keilmuan, adab, dan tradisi pesantren.
“Santri harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan akar. Akar kita adalah tradisi keilmuan pesantren, sanad, adab, dan nilai-nilai yang diwariskan para masyayikh,” kata Gus Gudfan dalam keterangannya, Sabtu (3/10).
Gus Gudfan mengatakan, tradisi yang kuat justru dapat menjadi bekal bagi santri untuk menghadapi berbagai tantangan baru. Santri, menurut dia, tidak cukup hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga harus mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Semakin kuat akarnya, semakin luas pula pengabdiannya. Santri tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, frasa “Menjaga Keutuhan Negeri” mengingatkan pada perjalanan panjang kaum santri dalam sejarah Indonesia. Pesantren dan santri dinilai memiliki tanggung jawab kebangsaan untuk merawat persaudaraan, menjaga kebinekaan, dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Cinta kepada tradisi dan cinta kepada negeri tidak pernah berseberangan. Dari pesantren kita belajar bahwa menjaga agama harus berjalan beriringan dengan menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa,” katanya.
Makna tersebut juga dituangkan dalam logo Hari Santri 2026 melalui empat elemen utama, yakni akar, kitab terbuka, kubah, dan bintang.
Akar melambangkan tradisi dan sanad keilmuan yang kokoh. Kitab menggambarkan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual pesantren. Kubah merepresentasikan nilai spiritual dan kehidupan keagamaan, sedangkan bintang menggambarkan cita-cita luhur serta arah pengabdian santri.
“Kitab mengingatkan bahwa santri tumbuh bersama ilmu. Akar mengingatkan dari mana kita berasal. Kubah menunjukkan landasan spiritual, sedangkan bintang menjadi simbol cita-cita dan arah pengabdian,” ujar Gus Gudfan.
Ia menegaskan, Hari Santri tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi pengingat untuk menghidupkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan masyarakat.
“Tradisi itu bukan sekadar untuk dikenang. Tradisi harus dihidupkan. Di dalamnya ada ilmu, adab, keteladanan, kepedulian kepada sesama, dan tanggung jawab menjaga negeri,” katanya.
Peluncuran tema dan logo Hari Santri 2026 juga menjadi bagian dari momentum baru PBNU setelah diumumkannya susunan Pengurus PBNU Masa Khidmah 2026-2031.

