Menko Airlangga Dorong Hilirisasi dan Digitalisasi untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Intime – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong percepatan hilirisasi, industrialisasi, dan digitalisasi untuk memperkuat daya saing ekonomi Indonesia. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Airlangga mengatakan, pengembangan industri tidak cukup hanya mengandalkan pengolahan sumber daya alam. Pemerintah juga perlu memperkuat manufaktur, agroindustri, teknologi digital, dan jasa bernilai tambah tinggi.

“Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri dan berbagai manufaktur lain yang didorong,” kata Airlangga dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).

Ia mencontohkan sektor otomotif, tekstil dan produk tekstil, serta barang konsumsi cepat habis sebagai industri yang perlu terus dikembangkan. Pemerintah menargetkan kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) dapat meningkat melampaui 20 persen.

Sepanjang semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Industri pengolahan menyumbang 18,50 persen terhadap PDB, sedangkan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen.

Indikator manufaktur juga membaik. PMI Manufaktur Indonesia naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, kembali ke zona ekspansi.

Dalam program hilirisasi, pemerintah memetakan pengembangan 28 komoditas yang diproyeksikan menghasilkan investasi US$ 618,1 miliar, ekspor US$ 857,6 miliar, dan nilai tambah US$ 235,9 miliar. Airlangga memperkirakan tambahan ekspor dari program tersebut dapat mendekati US$ 500 miliar.

Salah satu contoh hasil hilirisasi terlihat pada produk berbasis nikel. Nilai ekspornya meningkat dari sekitar US$ 1,3 miliar pada 2016 menjadi US$ 34 miliar pada 2025.

Namun, transformasi ekonomi juga membutuhkan dukungan energi yang kompetitif dan lebih hijau, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah mendorong penggunaan kecerdasan buatan, machine learning, Internet of Things, dan otomasi untuk meningkatkan produktivitas industri.

Di sektor digital, kerja sama ASEAN melalui *Digital Economic Framework Agreement* (DEFA) diperkirakan dapat meningkatkan nilai ekonomi digital kawasan dari sekitar US$ 1 triliun menjadi US$ 2 triliun. Indonesia dinilai memiliki peluang besar karena menyumbang sekitar 40 persen ekonomi ASEAN.

Pemerintah juga menargetkan pengembangan 15 ribu talenta AI dan semikonduktor dalam tiga tahun ke depan melalui penguatan pendidikan vokasi dan kolaborasi dengan dunia usaha.

Airlangga menegaskan transformasi dari pertanian menuju industri, lalu ke digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi, perlu dipercepat agar produktivitas meningkat dan target pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dikejar.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini