Intime – Anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta Fraksi Partai Demokrat, Nur Afni Sajim, mendorong semakin banyak perempuan, khususnya dari kalangan generasi muda dan mahasiswa, untuk berani mengambil peran dalam dunia politik. Keterlibatan perempuan dinilai penting agar proses pengambilan kebijakan publik semakin kaya perspektif serta mampu menghadirkan keputusan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Nur Afni Sajim saat menjadi keynote speaker dalam diskusi publik bertema “Menguatkan Pemahaman Politik Dalam Membentuk Generasi Muda yang Berperan Aktif dalam Pembangunan Bangsa”, yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (HIMAJIP) Universitas Nasional di Exhibition Lounge Lantai 2 Universitas Nasional, Jakarta, Kamis (20/8).
Diskusi tersebut turut menghadirkan akademisi Universitas Nasional, Dr. Yusuf Wibisono dan Dr. Selamat Ginting, sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Afni menceritakan bahwa salah satu motivasi yang mendorong dirinya terjun ke dunia politik hingga menjadi anggota DPRD DKI Jakarta adalah keinginannya untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan.
Menurut dia, politik tidak semestinya hanya dipahami sebagai arena perebutan jabatan dan kekuasaan. Politik juga merupakan ruang pengabdian dan instrumen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui kebijakan.
“Perempuan jangan hanya menjadi penonton dalam politik. Kita harus berani masuk, mengambil peran, dan ikut menentukan arah kebijakan. Sebab banyak keputusan yang menyangkut kehidupan perempuan, keluarga, anak-anak, pendidikan, ekonomi, dan masa depan masyarakat ditentukan melalui proses politik,” kata Afni.
Nur Afni yang juga tercatat sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional itu menilai keterlibatan perempuan dapat memberikan warna tersendiri dalam kehidupan politik. Karakter, kepekaan sosial, serta pengalaman perempuan dalam melihat berbagai persoalan kehidupan masyarakat dinilai dapat memperkaya perspektif dalam proses penyusunan kebijakan publik.
Ia berharap politik ke depan semakin menghadirkan pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada kepentingan kekuasaan, tetapi juga pada kepedulian, keberpihakan, dan kemampuan memahami persoalan masyarakat secara lebih utuh.
“Politik membutuhkan keberanian, tetapi politik juga membutuhkan hati nurani. Ketika perempuan membawa kepekaan, keberanian, dan gagasan ke dalam ruang politik, maka kita sedang membuka peluang lahirnya kebijakan yang lebih manusiawi dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Afni secara khusus mengajak mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional, terutama mahasiswa perempuan, untuk tidak ragu meniatkan diri terjun ke dunia politik.
Menurut dia, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengamat atau pengkritik terhadap jalannya pemerintahan. Anak-anak muda juga harus mulai mempersiapkan diri menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
“Kalau kita memiliki cita-cita tentang kehidupan yang lebih baik, jangan takut memperjuangkannya melalui jalur politik. Kekuasaan harus diisi oleh orang-orang yang punya gagasan, integritas, dan keberanian memperjuangkan kebaikan. Karena banyak cita-cita besar hanya dapat diwujudkan ketika gagasan itu bertemu dengan kewenangan untuk membuat kebijakan,” kata Afni.
Meski peluang perempuan di dunia politik semakin terbuka, Afni mengakui masih terdapat tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah cara pandang sebagian masyarakat yang masih meremehkan kapasitas dan kemampuan perempuan dalam kepemimpinan maupun politik.
Pandangan semacam itu, menurut dia, sudah semakin tidak relevan. Dalam berbagai bidang kehidupan, perempuan telah membuktikan mampu menjalankan tanggung jawab publik, memimpin organisasi, mengelola pemerintahan, hingga mengambil keputusan strategis.
“Perempuan tidak meminta keistimewaan. Yang dibutuhkan adalah kesempatan yang adil untuk membuktikan kemampuan. Hari ini kita melihat semakin banyak perempuan yang mampu tampil, memimpin, dan menunjukkan prestasi yang tidak kalah dengan laki-laki,” ujarnya.
Afni mencontohkan keterwakilan perempuan di Fraksi Partai Demokrat DPRD Provinsi DKI Jakarta. Dari sembilan anggota Fraksi Partai Demokrat, empat di antaranya merupakan perempuan. Komposisi tersebut menurutnya telah melampaui angka keterwakilan 30 persen perempuan.
Bagi Afni, keterwakilan tersebut tidak boleh berhenti pada persoalan jumlah. Kehadiran perempuan di lembaga politik harus diikuti dengan keberanian menyampaikan gagasan, memperjuangkan aspirasi masyarakat, serta terlibat aktif dalam pengambilan keputusan.
Ia pun mengingatkan mahasiswa bahwa keberlangsungan demokrasi sangat bergantung pada kualitas generasi yang bersedia terlibat di dalamnya. Karena itu, pemahaman politik di kalangan anak muda harus diarahkan bukan sekadar untuk mengetahui proses politik, tetapi juga membangun kesadaran untuk ikut mengambil tanggung jawab dalam pembangunan bangsa.
“Generasi muda jangan menjauhi politik hanya karena melihat sisi buruknya. Justru politik membutuhkan orang-orang baik untuk masuk dan memperbaikinya. Dan saya ingin semakin banyak perempuan muda memiliki keberanian untuk berada di sana,” tutup Afni.

