Intime – Ketua DPP PDI-P Deddy Yevri Sitorus menilai pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenai kekuasaan yang tidak berlangsung selamanya dapat dimaknai sebagai pesan politik menuju Pemilu 2029.
Menurut Deddy, pernyataan mengenai kekuasaan yang memiliki batas waktu pada dasarnya merupakan hal yang normatif. Namun, konteks penyampaiannya sebagai bagian dari pidato politik membuat pernyataan tersebut dapat memiliki makna politik tertentu.
“Tetapi masalahnya adalah bahwa itu adalah pidato politik dan tentu punya konteks dan tujuan politik tertentu pula,” kata Deddy, Rabu (9/9).
Deddy mengatakan, dari perspektif politik, pernyataan AHY sangat mungkin ditafsirkan sebagai pesan kepada koalisi maupun institusi pemerintahan.
Ia menilai, salah satu kemungkinan tafsirnya adalah adanya ketidakpuasan AHY atau Partai Demokrat terhadap situasi internal pemerintahan saat ini.
“Tinggal dilihat apakah ada sinyal-sinyal ketidakpuasan atau kekecewaan dari AHY atau partainya terhadap pengelolaan kekuasaan pemerintahan saat ini,” ujarnya.
Selain itu, Deddy membuka kemungkinan pidato AHY tersebut berkaitan dengan peta politik menuju Pemilu 2029.
Menurut dia, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai seruan kepada partai-partai yang berada dalam pemerintahan untuk mulai menyiapkan peta jalan baru menghadapi kontestasi politik mendatang.
“Bisa saja ditafsirkan bahwa pernyataan itu adalah seruan kepada koalisi partai di pemerintahan untuk mulai memikirkan peta jalan baru menuju Pemilu 2029,” kata Deddy.
Kemungkinan lainnya, lanjut dia, pidato tersebut dapat menjadi pesan kepada Presiden agar mulai mempertimbangkan AHY dan Partai Demokrat dalam kontestasi politik berikutnya.
Deddy juga menilai tren kepuasan publik terhadap pemerintah dan Presiden yang disebutnya mengalami penurunan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi Demokrat untuk mulai membaca momentum politik.
“Sangat bisa dipahami jika kemudian AHY/Demokrat menyimpulkan sekarang ini sebagai momentum yang tepat untuk masuk dalam kancah pertarungan politik menuju 2029,” ujarnya.
Meski demikian, Deddy menilai AHY masih memiliki pekerjaan rumah jika ingin memperbesar peluang dalam kontestasi Pilpres 2029.
“Terutama untuk mengejar ketertinggalan terhadap berbagai tokoh yang sudah muncul dalam radar survei seperti KDM (Dedi Mulyadi) dan Prabowo sendiri,” kata Deddy.

