Pemerhati Sosial Dorong MBG Berbasis Gotong Royong, Libatkan Kantin, Orang Tua, hingga PKK

Intime – Pemerhati sosial Denny mengusulkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis gotong royong dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, program tersebut seharusnya tidak hanya dipandang sebagai penyedia makan siang gratis, tetapi menjadi ekosistem kedaulatan gizi berbasis komunitas untuk menekan angka stunting dan mengatasi kerawanan gizi.

“Ini bukan sekadar program makan siang, tetapi ekosistem kedaulatan gizi berbasis komunitas yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” kata Denny.

Menurut Denny, pemerintah melalui dinas pendidikan dan dinas kesehatan berperan sebagai regulator, penyusun standar gizi, serta penyedia anggaran melalui APBN maupun APBD. Sementara itu, rumah sakit TNI dapat memastikan standar keamanan pangan, sedangkan Persit dinilai mampu mengelola dapur komunal secara disiplin hingga tingkat kewilayahan.

Di sisi lain, petani, peternak, dan pelaku usaha lokal menjadi pemasok bahan pangan secara langsung tanpa perantara. Dunia usaha juga dapat berkontribusi melalui penyediaan peralatan dapur maupun fasilitas penyimpanan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Rantai pasok harus melibatkan petani dan pengusaha lokal agar manfaat ekonominya kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Denny menilai pelaksanaan di lapangan dapat ditopang oleh PKK hingga tingkat RT. Selain menyiapkan makanan, jaringan tersebut dinilai mampu memantau kondisi gizi anak secara berkelanjutan dari rumah hingga sekolah.

Ia juga mengusulkan keterlibatan perguruan tinggi melalui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk melakukan pendataan digital kondisi gizi anak, mengawasi higienitas pengolahan makanan, serta mengevaluasi efektivitas program.

Menurut Denny, keberhasilan MBG juga bergantung pada keterlibatan aktif orang tua siswa.

“Orang tua harus menjadi subjek, bukan sekadar penerima manfaat. Mereka bisa ikut menyumbang tenaga atau donasi secara transparan agar kualitas menu terus meningkat,” katanya.

Denny meyakini model gotong royong tersebut dapat menciptakan sistem pelaksanaan MBG yang lebih berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan masyarakat, sekaligus memperluas dampak sosial dan ekonomi hingga ke tingkat komunitas.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini