spot_img

Pengamat Nilai Reformasi Jilid II Sulit Terjadi, Tak Ada Figur Ikonik seperti 1998

Intime – Pengamat politik menilai gerakan Reformasi Jilid II sulit berkembang menjadi gelombang besar seperti Reformasi 1998. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya figur mahasiswa yang menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah.

Menurut dia, pada Reformasi 1998 terdapat sejumlah tokoh mahasiswa yang kemudian dikenal publik, seperti Fadli Zon, Adian Napitupulu, Budiman Sudjatmiko hingga Fahri Hamzah.

“Berbeda dengan agenda Reformasi 1998 yang menjadi ikon mahasiswa saat itu, agenda Reformasi Jilid II tidak punya ikon gerakan mahasiswa yang bisa menjadi simbol perlawanan terhadap rezim,” katanya, Sabtu (14/6).

Ia menilai kondisi tersebut membuat gerakan mahasiswa yang muncul dalam agenda Reformasi Jilid II tidak terlalu masif dan tidak berkembang dalam skala besar.

Dia kemudian menyinggung tragedi penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa dan menyebabkan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, ia menyebut Indonesia sempat menghadapi momentum yang dinilai mendekati perubahan besar pasca kerusuhan Agustus 2025. Menurutnya, situasi tersebut dipicu meninggalnya Affan Kurniawan yang disebut terlindas aparat.

“Pasca meninggalnya Affan Kurniawan terjadi kerusuhan hebat yang mengarah kepada penggulingan rezim,” ujarnya.

Ia mengatakan kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran sempat terjadi di berbagai tempat. Namun, pemerintah dinilai mampu mengendalikan situasi tersebut sehingga gejolak tidak berkembang lebih jauh.

“Kerusuhan, penjarahan pembakaran di mana-mana namun pemerintah bisa mengatasinya dengan bijaksana,” katanya.

Karena itu, ia berpandangan gagasan mengenai Reformasi Jilid II tidak mudah diwujudkan.

“Jadi sekali lagi ide gerakan tentang Reformasi Jilid II sulit untuk dapat diwujudkan,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini