Intime – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sugiat Santoso, angkat bicara terkait polemik penggunaan APBN untuk pengadaan sapi kurban Presiden Prabowo Subianto pada Iduladha 1447 Hijriah.
Sugiat menegaskan penggunaan anggaran negara untuk program bantuan kemasyarakatan presiden, termasuk penyaluran hewan kurban, bukanlah hal baru dalam praktik pemerintahan di Indonesia. Menurutnya, setiap kepala negara memang memiliki pos anggaran yang ditujukan untuk membantu masyarakat dalam berbagai sektor.
“Ini hal yang biasa dalam persoalan kenegaraan. Presiden sebagai kepala negara memang memiliki anggaran yang diperuntukkan membantu masyarakat,” kata Sugiat di Jakarta, Rabu (27/5).
Ia menilai polemik yang muncul seolah menggiring opini bahwa program bantuan sapi kurban Presiden Prabowo merupakan kebijakan baru, padahal program serupa sudah berlangsung sejak era pemerintahan sebelumnya.
Menurut Sugiat, bantuan sapi kurban presiden justru memberi dampak langsung bagi masyarakat di berbagai daerah yang merayakan Iduladha. Ribuan warga disebut dapat merasakan manfaat dari distribusi hewan kurban tersebut.
Tak hanya soal kurban, Sugiat juga menekankan bahwa bantuan presiden selama ini mencakup banyak sektor lain yang berkaitan dengan kebutuhan publik, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga fasilitas umum.
“Bukan hanya kurban. Bantuan presiden juga banyak untuk pendidikan, kesehatan, sampai fasilitas publik. Jadi jangan melihat ini seolah sesuatu yang baru,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyalurkan 1.098 ekor sapi kurban untuk Iduladha 1447 Hijriah. Sapi-sapi tersebut berasal dari peternak lokal dengan bobot premium antara 800 kilogram hingga 1,3 ton.
Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, menjelaskan sapi kurban yang disalurkan terdiri dari berbagai jenis, mulai dari simmental, limousin, peranakan ongole, brahman, angus, Sapi Bali, FH, belgian blue hingga charolais.
Menurut Juri, anggaran pengadaan sapi kurban tersebut berasal dari APBN melalui pos bantuan presiden untuk kemasyarakatan dengan total sekitar Rp100 miliar. Besaran harga sapi disesuaikan dengan bobot dan lokasi pengadaan di masing-masing daerah.

