Intime – Presiden Prabowo Subianto merestui tujuh strategi Bank Indonesia untuk memperkuat rupiah setelah sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, “Presiden merestui tujuh langkah penting untuk membuat rupiah kuat dan stabil ke depan.”
Strategi utama dimulai dari intervensi agresif di pasar valas. “Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk stabilisasi rupiah,” tegas Perry di Jakarta, Selasa (5/5) malam.
BI juga mendorong arus modal masuk melalui instrumen SRBI agar mampu menutup arus keluar dari SBN dan saham. “Inflow SRBI kami jaga agar mencukupi outflow, sehingga menopang rupiah,” ujarnya.
Koordinasi fiskal-moneter diperkuat, termasuk pembelian SBN di pasar sekunder. “Year-to-date kami sudah beli Rp123,1 triliun dan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan,” kata Perry.
Dari sisi likuiditas, BI memastikan kondisi perbankan tetap longgar. “Likuiditas lebih dari cukup, pertumbuhan uang primer 14,1 persen,” jelasnya.
Langkah tegas juga dilakukan lewat pembatasan pembelian dolar AS. “Batas diturunkan jadi 50.000 dolar AS, bahkan akan kami turunkan lagi ke 25.000 dolar AS dengan syarat underlying,” ujar Perry.
Di pasar global, BI memperkuat intervensi offshore, termasuk membuka ruang bagi bank domestik menjual NDF di luar negeri untuk menambah pasokan valas.
Terakhir, pengawasan diperketat bersama OJK. “Kami awasi korporasi dengan pembelian dolar tinggi untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga,” tutup Perry.
Berikut adalah rincian tujuh strategi yang akan dijalankan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas mata uang Rupiah:
- Intervensi Pasar Valas: BI memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik domestik maupun luar negeri. Perry menegaskan cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi.
- Penguatan Arus Modal (Inflow):Mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik modal asing guna menutupi aliran keluar (outflow) pada SBN dan saham.
- Koordinasi Fiskal-Moneter: BI bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk membeli SBN di pasar sekunder. Tercatat secara year-to-date, BI telah membeli SBN sebesar Rp123,1 triliun.
- Menjaga Likuiditas: Memastikan likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Saat ini, pertumbuhan uang primer tercatat berada di angka 14,1 persen (double digit).
- Pembatasan Pembelian Dolar AS: Menurunkan batas pembelian dolar tanpa underlying (aset fisik) dari semula US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan, dan direncanakan akan turun lagi hingga US$25.000.
- Intervensi Pasar Offshore: Memperbolehkan bank domestik melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri untuk meningkatkan pasokan valas.
- Pengawasan Ketat Korporasi: Meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi dengan transaksi dolar tinggi melalui koordinasi erat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

