Rebana Biang, Pusaka Betawi yang Bertahan di Tangan Sang Maestro

Di tengah gempuran budaya modern, budayawan Betawi H Abdurahman Sa’aba, yang akrab disapa Wan Abdurahman, tetap setia menjaga Rebana Biang, seni musik warisan leluhur yang berakar sejak 1830 di Ciganjur, Jakarta Selatan. Saat tulisan ini pertama kali dibuat pada Juni 2013, usianya menginjak 70 tahun. Kini, di usia 83 tahun, semangat dan perjuangannya merawat kesenian yang berpadu dengan Tari Belengo dan silat Betawi itu menjadi pengingat bahwa pusaka budaya Betawi harus terus dijaga agar tak hilang ditelan zaman.

Oleh: Achmad Rizki

Secara fisik, ia masih relatif sehat, tetapi mengalami gangguan pada mata hingga tak bisa melihat. Kisah perjuangannya merawat Rebana Biang menjadi pengingat akan pentingnya meneruskan warisan budaya Betawi kepada generasi berikutnya.

Suara rebana menggema, mengiringi gerakan penari yang membungkuk dan berputar perlahan. Sesekali, gerakannya menyerupai jurus silat Betawi. Itulah Tari Belengo, kesenian yang tak bisa dipisahkan dari Rebana Biang, warisan budaya Betawi yang berakar di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Wan Abdurahman dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kesenian tersebut. Baginya, Rebana Biang bukan sekadar musik tradisional, melainkan pusaka leluhur yang harus diwariskan kepada anak-cucu.

Menurut penuturannya, Rebana Biang berasal dari Banten dan Jawa Barat sebelum dibawa ke Ciganjur pada 1830 oleh Kumpi Jaenal. Selain mengajarkan kesenian, Kumpi Jaenal juga menyebarkan ajaran Islam melalui pengajian Alquran.

“Setelah selesai mengaji Alquran dan menerima pelajaran agama, barulah dilanjutkan dengan belajar musik Rebana Biang,” tutur Wan Abdurahman.

Kesenian itu kemudian diterima dan dikembangkan oleh H Damong bersama rekan-rekannya. Dari generasi ke generasi, Rebana Biang terus bertahan hingga akhirnya berada dalam perawatan Wan Abdurahman.

Pada 2013, ia mengajarkan kesenian tersebut kepada 15 anak dan kerabatnya, termasuk anak-cucu serta keponakan. Empat dari lima anaknya saat itu juga bisa memainkan Rebana Biang. Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya memastikan kesenian warisan leluhur tidak berhenti pada satu generasi.

Berpadu dengan Silat Betawi

Rebana Biang memiliki keunikan karena tidak hanya mengandalkan permainan musik, tetapi juga berpadu dengan Tari Belengo. Gerakan penarinya didominasi tubuh yang membungkuk, mengikuti irama rebana, lalu berputar dengan gerakan yang mengingatkan pada jurus silat.

“Sebagian gerakannya merupakan silat Betawi yang dimodifikasi dengan rebana,” jelas Wan Abdurahman.

Penari biasanya membungkuk kepada penonton sebelum dan sesudah pertunjukan. Sejumlah gerakan juga mengambil unsur Silat Akal Taqwa, sehingga pertunjukan ini mempertemukan seni musik, tari, dan bela diri dalam satu kesatuan.

Syair yang mengiringi Rebana Biang bersumber dari kitab rawi atau Barzanji, kitab maulid, dan selawat Nabi. Dalam perkembangannya, kesenian ini juga memadukan pantun Betawi, lagu Melayu, serta lagu-lagu Betawi.

Sebelum latihan maupun tampil, para pemain terlebih dahulu membaca selawat, Surah Al-Fatihah, dan tawasul kepada Nabi serta para leluhur. Bagi mereka, Rebana Biang bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga tradisi yang memiliki akar keagamaan dan penghormatan terhadap pendahulu.

Pernah Bergema hingga Australia

Perjuangan Wan Abdurahman memperkenalkan Rebana Biang tidak hanya berlangsung di lingkungan masyarakat Betawi. Kelompok yang berada di bawah asuhannya pernah tampil di Australia pada 9 Oktober 2012. Pertunjukan itu mendapat sambutan antusias dari penonton.

Di dalam negeri, ia juga mengingat pesan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1974 agar kesenian tersebut tetap dipertahankan dan tidak sampai punah.

“Saya mempertahankan budaya ini karena merupakan pusaka dari orang tua. Tugas saya melestarikan pusaka, menjalankan amanat, dan menjaga kebudayaan Betawi. Hanya itu niatnya,” katanya.

Bagi Wan Abdurahman, menjaga Rebana Biang bukan semata-mata soal mempertahankan pertunjukan tradisional. Ada tanggung jawab moral untuk meneruskan amanat leluhur sekaligus memastikan generasi muda mengenal identitas budayanya sendiri.

Jangan Menunggu Punah

Salah satu kekhawatiran terbesar Wan Abdurahman adalah regenerasi. Kesenian tradisional akan sulit bertahan jika tidak ada anak muda yang mau belajar dan meneruskannya. Karena itu, ia berusaha membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk mengenal Rebana Biang sejak dini.

“Saya punya rumus sendiri, tumbuh sebelum patah, muncul sebelum hilang. Jangan tunggu patah, baru muncul. Kalau ada yang bisa mengajarkan, budaya itu bisa terus hidup. Kalau tidak, habis budaya kita,” ujarnya.

Pada 2013, kelompoknya juga dijadwalkan tampil dalam rangkaian peringatan HUT ke-486 Jakarta. Mereka direncanakan mengisi pertunjukan di seluruh 10 kecamatan di Jakarta Selatan secara bergiliran.

“Saya sangat bangga dengan apa yang saya lakukan. Jadi, bukan hanya materi yang dicari, tetapi bagaimana melestarikan Rebana Biang ini,” tuturnya.

Lebih dari 13 tahun kemudian, pesan tersebut tetap relevan. Kini, ketika Wan Abdurahman telah berusia 83 tahun dan mengalami gangguan penglihatan, upaya melestarikan Rebana Biang semakin mendesak. Pengalaman dan pengetahuannya merupakan bagian penting dari warisan yang perlu diturunkan kepada generasi muda.

Tiga Ukuran, Tiga Karakter Suara

Rebana Biang dimainkan menggunakan tiga jenis rebana dengan ukuran dan karakter suara berbeda. Rebana terbesar berdiameter sekitar 55 sentimeter, ukuran sedang sekitar 45 sentimeter yang disebut kotek, serta ukuran terkecil sekitar 35 sentimeter yang disebut gendung.

Alat musik tersebut dibuat dari kayu nangka atau mahoni, dengan membran kulit kambing dan pengikat berbahan rotan. Perbedaan ukuran menghasilkan karakter bunyi yang saling melengkapi dalam permainan musik.

Dalam satu kelompok pertunjukan, Rebana Biang dapat melibatkan tujuh orang, terdiri atas empat pemain musik dan tiga penari Belengo. Perpaduan itulah yang membentuk kekhasan pertunjukan ini sebagai kesenian Betawi yang menggabungkan musik, tari, dan unsur silat.

Perjalanan Wan Abdurahman mengajarkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan atau mengenangnya dalam acara seremonial. Kesenian harus dipelajari, dimainkan, dan diwariskan secara berkelanjutan.

Kini, di usia 83 tahun, Wan Abdurahman menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar langsung dari seorang maestro tidak akan berlangsung selamanya. Generasi penerus perlu mengambil peran sebelum pengetahuan dan keterampilan yang dijaganya selama puluhan tahun semakin sulit ditemukan.

Sebab, ketika seorang maestro tak lagi bisa melihat, warisan yang dijaganya justru harus semakin terang dalam ingatan dan tindakan generasi penerusnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini