Intime – Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi *Standalone Market* mencerminkan krisis kepercayaan investor global.
Menurut Rahma, persoalan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan teknis pengelompokan indeks investasi, tetapi juga menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap tata kelola, transparansi, dan stabilitas makroekonomi Indonesia.
“Rencana reklasifikasi status pasar modal Indonesia oleh MSCI dari Emerging Market menjadi Standalone Market bukan sekadar persoalan teknis indeks investasi, melainkan cerminan dari krisis kepercayaan investor global terhadap tata kelola, transparansi, dan stabilitas makroekonomi domestik kita saat ini,” kata Rahma kepada wartawan, Minggu (18/10).
Ia menjelaskan, sejumlah persoalan struktural menjadi perhatian dalam rencana perubahan klasifikasi tersebut. Di antaranya, penurunan likuiditas pasar, transparansi kepemilikan saham, serta persepsi mengenai intervensi dan ketidakpastian regulasi.
Menurut Rahma, persoalan itu berpotensi memperburuk sentimen investor, terutama ketika pasar keuangan menghadapi tekanan eksternal, seperti perubahan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan volatilitas harga komoditas.
Apabila perubahan status tersebut diterapkan, pasar modal Indonesia berpotensi menghadapi tekanan jual dari pengelola dana global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi, termasuk reksa dana pasif dan *exchange-traded funds* (ETF).
Penyesuaian portofolio oleh investor tersebut dapat memengaruhi arus modal asing. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada cakupan perubahan indeks dan respons pelaku pasar.
Rahma juga mengingatkan potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila penarikan dana asing meningkatkan permintaan dolar AS, terlebih jika terjadi bersamaan dengan tekanan pada neraca pembayaran.
“Hal ini secara langsung mengerek biaya impor bahan baku dan energi,” ujarnya.
Dampak gejolak pasar, lanjut dia, juga dapat meluas ke perekonomian riil. Penurunan nilai saham berpotensi menggerus kekayaan investor domestik, termasuk dana pensiun dan perusahaan asuransi. Kondisi tersebut juga dapat menekan daya beli serta meningkatkan biaya pendanaan perusahaan.
Rahma menilai, pengumuman MSCI dapat memperbesar tekanan pasar apabila disertai catatan negatif mengenai transparansi dan likuiditas. Pelaku pasar berpotensi menunda investasi, sedangkan perusahaan meningkatkan aktivitas lindung nilai untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar.
Ia menyebut koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt), serta pelemahan rupiah yang disebutnya terjadi pada Jumat (16/10), sebagai sinyal darurat makroekonomi.
Karena itu, Rahma menekankan perlunya respons cepat, terukur, dan kredibel dari otoritas fiskal maupun moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan Indonesia.

