Intime – Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pelemahan rupiah bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan sinyal melemahnya kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.
“Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar pasar uang. Ia adalah sinyal bahwa pasar sedang menguji kredibilitas fiskal, koordinasi kebijakan, dan keyakinan terhadap arah ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam keterangannya yang diterima, Intime, Rabu (20/5).
Ia menambahkan, tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun sekitar 2% pada 18 Mei 2026, dipengaruhi penghapusan sejumlah emiten Indonesia dari indeks MSCI serta kekhawatiran investor terhadap transparansi pasar, independensi bank sentral, dan arah belanja pemerintah.
“Ketika investor melihat fiskal terlalu agresif tetapi tidak cukup produktif, mereka tidak membaca APBN sebagai angka, melainkan peta risiko,” katanya.
Menurutnya, inflasi memang terlihat terkendali dengan inflasi tahunan April 2026 sebesar 2,42 persen, namun tekanan pangan masih menjadi risiko utama. Badan Pangan Nasional mencatat inflasi pangan mencapai 3,37%, dengan komoditas seperti beras, daging ayam ras, dan telur masih memberi tekanan.
“Risiko volatile food belum hilang. Ia hanya sedang tidur sebentar,” ujarnya.
Achmad juga menyoroti pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang tercatat 5,61% oleh BPS, namun dinilai belum sepenuhnya berkualitas karena ditopang konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81%.
“Pertumbuhan 5,61% bukan buruk. Tetapi jika terlalu disangga belanja pemerintah, bukan produktivitas industri dan ekspor bernilai tambah, maka itu seperti lampu terang dari genset pinjaman. Terlihat terang, tetapi bahan bakarnya mahal,” tegasnya.
Ia menutup dengan peringatan bahwa negara maju tidak dibangun dari pertumbuhan yang terus ditopang APBN, melainkan dari produktivitas yang memperkuat fiskal secara berkelanjutan.

