Intime – Tekanan di pasar keuangan domestik berlanjut pada perdagangan Rabu (8/7). Setelah nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.984 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka di zona merah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada pembukaan perdagangan turun 2,32 poin atau 0,04% ke level 5.984,18. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 melemah 0,48 poin atau 0,08% ke posisi 594,44.
Pelemahan yang terjadi secara bersamaan pada rupiah dan IHSG menunjukkan sentimen investor terhadap pasar domestik masih cenderung berhati-hati. Meski koreksinya relatif tipis, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal maupun domestik masih membayangi aset keuangan Indonesia.
Rupiah yang bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kenaikan biaya impor, tekanan inflasi, serta membengkaknya beban utang berdenominasi dolar AS. Kondisi ini biasanya turut memengaruhi minat investor terhadap pasar saham.
Di sisi lain, pelemahan IHSG mencerminkan sikap wait and see investor di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS, serta tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah. Proyeksi pelebaran defisit APBN dan tingginya kebutuhan belanja negara juga menjadi faktor yang terus dicermati pasar.
Apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS, pasar saham domestik diperkirakan masih berpotensi mengalami volatilitas, terutama pada sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor dan pembiayaan dalam mata uang asing.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

