Intime – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah dipengaruhi rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari ekspektasi.
“Penambahan Non-Farm Payrolls (NFP) hanya mencapai 57 ribu pada Juni 2026, turun dari 129 ribu pada bulan sebelumnya dan jauh di bawah konsensus pasar sebesar 113 ribu,” katanya dikutip ANTARA di Jakarta, Jumat (3/7)
Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak menguat 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.950 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.995 per dolar AS.
Sementara itu, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen, lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar yang sebesar 4,3 persen.
Pelaku pasar disebut lebih menitikberatkan pada lemahnya data NFP, sehingga mendorong mundurnya ekspektasi waktu kenaikan suku bunga The Fed dari September 2026 menjadi Oktober 2026.
Di sisi lain, ia mengatakan terdapat kekhawatiran investor terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia, setelah mencatat defisit neraca perdagangan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir.
Sentimen negatif semakin diperkuat oleh proyeksi Fitch yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan turun menjadi setara 4,9 bulan pembayaran eksternal pada akhir 2026, lebih rendah dibandingkan median negara berperingkat BBB yang sebesar 5,0 bulan pembayaran eksternal.
“Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit transaksi berjalan serta menekan sentimen investor terhadap rupiah,” ujar dia Josua.


