lIntime – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi menunjukkan penguatan tipis di tengah dinamika pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi internasional. Mata uang Garuda tercatat menguat 21 poin atau 0,12% ke level Rp17.696 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.717 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini dinilai menjadi sinyal positif setelah beberapa hari terakhir pasar keuangan domestik berada di bawah tekanan eksternal, terutama akibat penguatan dolar AS dan tingginya tensi geopolitik global.
Analis menilai pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi arus modal asing dan ekspektasi pelaku pasar terhadap arah suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve. Ketika dolar AS mulai melemah di pasar global, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mendapatkan ruang penguatan.
Meski demikian, penguatan rupiah masih tergolong terbatas karena investor tetap berhati-hati terhadap risiko global, mulai dari perlambatan ekonomi dunia hingga fluktuasi harga komoditas.
Di sisi domestik, stabilitas inflasi dan langkah intervensi Bank Indonesia dinilai masih menjadi faktor utama yang menjaga rupiah agar tidak mengalami pelemahan lebih dalam. Bank sentral diperkirakan akan terus melakukan stabilisasi di pasar valas untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi global dalam pekan ini yang diprediksi akan memengaruhi arah pergerakan rupiah dan dolar AS ke depan.

