spot_img

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000, Alarm Keras bagi Kredibilitas Kebijakan Ekonomi

Intime – Nilai tukar rupiah kembali terpuruk pada perdagangan Rabu (1/7) pagi. Mata uang Garuda melemah 37 poin atau 0,21% ke level Rp17.944 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp17.907 per dolar AS. Posisi ini membuat rupiah semakin dekat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Pelemahan tersebut menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional masih menghadapi ujian berat. Di tengah penguatan dolar AS dan tingginya ketidakpastian global, tekanan terhadap rupiah memperlihatkan bahwa fondasi ekonomi domestik dinilai belum cukup kuat untuk meredam guncangan eksternal.

Secara ekonomi-politik, depresiasi rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Nilai tukar yang terus melemah berpotensi meningkatkan biaya impor, membebani industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri, memperbesar tekanan inflasi, serta pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat. Kondisi ini juga dapat mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kepercayaan investor.

Pasar kini menunggu efektivitas respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Langkah intervensi di pasar keuangan maupun bauran kebijakan moneter akan menjadi sorotan, terlebih ketika pelemahan rupiah terjadi di tengah tuntutan menjaga pertumbuhan ekonomi, menarik investasi, dan mengendalikan inflasi.

Jika tren pelemahan berlanjut hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, tekanan ekonomi berpotensi meningkat dan menjadi ujian politik bagi pemerintah. Bukan hanya karena dampaknya terhadap harga barang dan biaya hidup masyarakat, tetapi juga karena nilai tukar kerap dipandang sebagai salah satu indikator kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini