Intime – Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, memperingatkan bahwa pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak dunia bukan sekadar ancaman di layar pasar keuangan, melainkan bom ekonomi yang siap menghantam kehidupan masyarakat desa.
Bahkan hari ini Senin (18/5), nilai tukar rupiah pada perdagangan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah turun 33 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.630 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.597 per dolar AS.
Menurutnya, dampak paling mematikan akan muncul lewat kenaikan biaya energi dan logistik pangan yang ujungnya memicu lonjakan harga sembako di daerah-daerah.
“Argumen bahwa warga desa tidak terdampak dolar itu runtuh total. Ketika rupiah melemah dan harga minyak naik, yang paling duluan terpukul justru rakyat kecil di desa,” kata Achmad.
Ia menjelaskan, Indonesia sudah menjadi net importir minyak sejak 2004. Saat ini kebutuhan konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari separuh kebutuhan energi nasional harus ditebus dengan dolar AS.
Situasi itu semakin berbahaya karena asumsi makro APBN 2026 dinilai sudah jebol. Pemerintah sebelumnya mematok kurs Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak 70 dolar per barel. Namun realitas saat ini jauh lebih buruk, dengan harga minyak dunia menembus 105 dolar per barel.
Akibatnya, beban subsidi energi diproyeksikan membengkak menjadi Rp210 triliun atau naik 14,24 persen dibanding realisasi 2024 sebesar Rp183,9 triliun.
Achmad mengingatkan, kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, dan naiknya yield Surat Berharga Negara bisa menjadi mimpi buruk fiskal. “Setiap kenaikan 1 dolar harga minyak ditambah pelemahan rupiah Rp100 per dolar dan kenaikan yield SBN 0,1 persen bisa memperlebar defisit APBN hingga Rp9,5 triliun,” ujarnya.
Ia menilai, jika pemerintah akhirnya menyerah pada tekanan fiskal dan menaikkan harga BBM, dampaknya akan langsung terasa hingga pelosok desa hanya dalam hitungan jam.
Biaya logistik disebut menjadi jalur penularan utama. Truk pengangkut kebutuhan pokok menghabiskan sekitar 30 hingga 40 persen ongkos operasional hanya untuk solar. Ketika BBM naik, pengusaha logistik otomatis membebankan fuel surcharge ke harga distribusi barang.
“Yang naik bukan cuma bensin, tapi harga beras, ayam, telur, minyak goreng sampai ikan segar,” ucapnya.
Achmad juga menyoroti data inflasi April 2026 dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan inflasi tahunan mencapai 2,42 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 3,06 persen dan andil 0,90 persen.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng — barang-barang yang justru menjadi kebutuhan utama masyarakat perdesaan.
“Warga desa tidak mungkin berhenti makan hanya karena rupiah jatuh. Jadi ketika biaya energi dan distribusi naik, merekalah yang paling berat menanggung dampaknya,” kata Achmad.

