Intime – Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi ke Lampung mendapat sorotan dari pengamat politik Citra Institute, Efriza. Menurut Efriza, rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan simbol politik yang dibalut prosesi budaya.
Sorotan itu muncul setelah Jokowi menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari Keraton Keagungan Lampung dalam kunjungannya ke provinsi tersebut.
“Ini perdebatannya adalah kepada kelayakan Jokowi menerima gelar tersebut yakni Baginda Pemuka Bangsa, serta dikaitkan dengan relevansinya dan/atau legacy-nya Jokowi terhadap Lampung,” kata Efriza, Rabu (1/7).
Efriza mengatakan pemberian gelar adat sah apabila dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada Jokowi atas pengabdiannya selama memimpin Indonesia. Menurutnya, penghargaan dari lembaga adat juga dapat dipahami sebagai bagian dari pelestarian budaya daerah.
“Jika ini serta sebagai bagian dari pelestarian budaya adat di daerah Lampung, saya merasa ini harus dihormati dan sah saja. Namun, elite politik cenderung menjadikan budaya sebagai komoditas untuk menaikkan citra,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai safari politik Jokowi tetap memiliki pesan politik yang kuat. Menurutnya, pemberian gelar adat memunculkan perdebatan karena sangat bergantung pada penilaian subjektif pihak pemberi gelar.
Selain itu, Efriza juga menyoroti prosesi adat yang memperlihatkan aksi menginjak kepala kerbau. Ia menilai simbol tersebut berpotensi memunculkan persepsi mengenai sikap jumawa seorang mantan kepala negara.
“Makna subjektivitas bukan artinya pernyataan yang menjelaskan ini preseden buruk atau tindakan yang salah. Namun ada kecenderungan kesombongan dalam politik di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” katanya.
Menurut Efriza, pro dan kontra mengenai kunjungan Jokowi ke Lampung kemungkinan akan terus berkembang. Sebagian masyarakat memaknainya sebagai penghormatan terhadap budaya lokal, sementara sebagian lainnya melihat adanya pesan politik yang menyertai penggunaan simbol-simbol adat dalam safari politik tersebut.


