Intime – Safari politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dibalut pendekatan kepada tokoh adat dinilai belum tentu efektif meningkatkan dukungan terhadap Partai Solidaritas Indonesia (PSI), terutama dari kalangan pemilih rasional. Strategi tersebut diperkirakan lebih berpengaruh terhadap kelompok pemilih yang menjadikan figur atau tokoh masyarakat sebagai acuan dalam menentukan pilihan politik.
Pengamat Komunikasi Politik M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, pendekatan kepada tokoh adat merupakan strategi yang lazim digunakan partai politik karena tokoh adat memiliki pengaruh sosial di tengah komunitasnya.
Menurut dia, kehadiran Jokowi dalam prosesi pemberian gelar adat di Lampung dapat dipandang sebagai upaya membangun kedekatan dengan para opinion leader yang diharapkan mampu memperluas dukungan politik bagi PSI menjelang Pemilu 2029.
“Tujuan utama Jokowi mendekati para opinion leader tentulah untuk meningkatkan elektoral PSI. Namun peluang itu akan sangat besar terwujud bila pengikut dari tokoh adat itu masuk massa mengambang dari kelompok pemilih emosional,” ujar Jamiluddin kepada wartawan, Kamis (2/7).
Ia menjelaskan, pemilih emosional cenderung menjadikan tokoh yang dihormati sebagai rujukan dalam menentukan pilihan politik. Karena itu, dukungan atau kedekatan tokoh adat dengan figur tertentu berpotensi memengaruhi preferensi politik kelompok tersebut.
Sebaliknya, kata Jamiluddin, karakter pemilih rasional berbeda. Mereka lebih mengutamakan penilaian terhadap program, rekam jejak, dan kapasitas partai maupun kandidat dibanding mengikuti arahan tokoh masyarakat.
“Tokoh adat tidak akan punya pengaruh besar terhadap massa pendukungnya yang masuk kelompok pemilih rasional,” katanya.
Menurut dia, kelompok pemilih rasional akan tetap melakukan seleksi secara mandiri terhadap partai politik yang akan didukung sehingga tidak mudah diarahkan oleh figur tertentu, termasuk tokoh adat.
Meski demikian, Jamiluddin menilai strategi mendekati tokoh adat masih menjadi pilihan banyak partai politik karena komposisi pemilih emosional di Indonesia dinilai masih cukup besar.
Dalam kondisi tersebut, pendekatan kepada tokoh-tokoh berpengaruh di daerah dipandang tetap memiliki nilai strategis untuk memperluas basis dukungan politik.
“Karena itu, pendekatan terhadap tokoh adat untuk mendongkrak elektoral partai memang masih menjadi pilihan banyak partai. Kiranya itu juga yang membuat Jokowi mendekati tokoh adat dengan harapan dapat meningkatkan elektoral PSI,” ujarnya.
Jamiluddin menilai efektivitas strategi tersebut pada akhirnya akan sangat bergantung pada karakter pemilih di masing-masing daerah serta kemampuan PSI menawarkan program yang mampu menarik dukungan di luar pengaruh tokoh masyarakat.


