Sekjen PDIP Hasto Ungkap 3 Pesan Megawati untuk Gerakan Pemuda Marhaenis

Intime – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan tiga pesan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri kepada Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10).

Pesan tersebut disampaikan Hasto dalam Kongres ke-10 GPM yang mengusung tema “Marhaenist Future: Dedication of Life, Tetap Setia di Jalan Ideologi”. Kegiatan itu dihadiri peserta dari dewan pimpinan daerah dan cabang GPM dari sejumlah provinsi.

Hasto mengatakan, pesan pertama Megawati berupa salam hangat bagi seluruh keluarga besar GPM. Pesan kedua, Megawati mengingatkan pentingnya mempelajari pemikiran Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno, khususnya mengenai Marhaenisme.

“Yang pertama adalah salam hangat buat seluruh keluarga Gerakan Pemuda Marhaenis. Kemudian yang kedua Ibu Mega mengingatkan untuk terus pelajari pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme,” kata Hasto.

Adapun pesan ketiga ditujukan kepada kepengurusan GPM yang akan terbentuk melalui kongres tersebut. Megawati, kata Hasto, berpesan agar pengurus baru tidak melupakan sejarah perjuangan Marhaenisme.

“Kemudian yang ketiga pesan bagi kepengurusan yang nanti terbentuk dari hasil kongres ini untuk jangan lupa berziarah ke tempat Bapak Marhaen,” ujarnya.

Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis mengatakan, kongres menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat jaringan kepengurusan. Saat ini, GPM disebut memiliki 22 dewan pimpinan daerah dan 78 dewan pimpinan cabang.

Izedrik juga menyoroti tantangan memperkenalkan Marhaenisme kepada generasi muda. Menurut dia, istilah tersebut masih belum banyak dikenal di kalangan pelajar.

“Coba kita datang ke SMA-SMA, kita ajak ngobrol, tidak ada yang tahu marhaenisme,” kata Izedrik.

Sementara itu, Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kementerian Dalam Negeri Wahyu Chandra Kusuma menyinggung cara pandang terhadap rakyat kecil dalam diskursus Marhaenisme. Ia menilai masyarakat yang kerap disebut “wong cilik” justru merupakan pemilik negeri yang sesungguhnya.

“Bung Karno mengajarkan kegagahan, Bung Karno mengajarkan keberanian. Sehingga dalam forum ini kami memohon, jangan disebut lagi wong cilik. Yang dikatakan wong cilik itulah pemilik negeri ini yang sesungguhnya,” ujar Candra.

Pembukaan kongres turut dihadiri Ketua DPP PDI-P Ribka Tjiptaning dan senior partai Yakobus Mayong Padang.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini