Intime – Kawasan Tambora, Jakarta Barat, kembali menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat wilayah tersebut sebagai kantong terbesar RW kumuh di ibu kota. Pemprov DKI Jakarta, menyiapkan langkah penataan menyeluruh untuk mengurangi kepadatan dan risiko kebakaran yang terus berulang.
BPS DKI Jakarta 2026 mencatat sebanyak 211 Rukun Warga (RW) di Jakarta masih masuk kategori kumuh. Konsentrasi tertinggi berada di Jakarta Barat, khususnya Kecamatan Tambora.
Sebanyak delapan dari 11 kelurahan di Tambora masuk kategori kumuh berat akibat kepadatan penduduk ekstrem, minimnya sanitasi, serta kondisi hunian yang ditempati bergantian.
Delapan kelurahan tersebut yakni Kalianyar, Duri Selatan, Tanah Sereal, Krendang, Jembatan Besi, Angke, Jembatan Lima, dan Pekojan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan Pemprov DKI akan melakukan pembenahan kawasan Tambora secara bertahap agar keluar dari daftar RW kumuh di Jakarta.
“Tambora memang masih menjadi salah satu kawasan dengan kategori RW kumuh. Kami akan melakukan pembenahan secara prinsip di wilayah tersebut,” kata Pramono di Jakarta Selatan, Minggu (10/5).
Menurut Pramono, tingginya angka kebakaran di Tambora menjadi salah satu indikator utama kawasan itu masih tergolong kumuh. Kondisi permukiman yang sangat padat dinilai memperbesar risiko kebakaran dan menyulitkan penataan lingkungan.
“Mudah-mudahan ke depan Tambora bisa keluar dari 211 RW yang dianggap kumuh, karena salah satu wilayah dengan kasus kebakaran tertinggi di Jakarta ada di Tambora,” ujarnya.

