Pendidikan merupakan salah satu instrumen investasi terbaik yang dilakukan pemerintah untuk Papua. Sebab, pendidikan bukan sekadar tentang intelektualitas, melainkan perekat identitas hingga benteng terkokoh terhadap narasi-narasi yang berupya memisahkan rakyat Papua dari Indonesia.
Direktur Eksekutif Semar Institute, Tunjung Budi, menyatakan, anak-anak Papua selama ini mendapat pendidikan yang layak dari pemerintah. Ia contohkan dengan banyaknya orang asli Papua (OAP) yang mendapatkan beasiswa, termasuk dari jalur kebijakan afirmasi.
“Setiap kali seorang anak OAP berhasil meraih beasiswa dan menyelesaikan pendidikan tinggi, itu adalah kemenangan negara yang jauh lebih bermakna daripada kemenangan militer mana pun. Karena anak itu pulang ke Papua membawa ilmu, membawa harapan, dan membawa keyakinan bahwa Indonesia adalah rumah yang layak dibanggakan. Itulah mengapa pendidikan adalah benteng nasionalisme yang sesungguhnya,” ucapnya, Minggu (12/4/2026).
Tunjung melanjutkan, komitmen pemerintah dalam bidang pendidikan untuk Papua sudah sangat nyata dan terus diperkuat. Misalnya, sekitar 200-an OAP menerima beasiswa LPDP untuk jenjang S2 dan S3 di dalam dan luar negeri, yang merupakan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Dana otonomi khusus (otsus) bahkan mengamanatkan minimal 30% dari total alokasi untuk sektor pendidikan. Ini menunjukkan mandat fiskal yang tidak ada presedennya untuk daerah mana pun di Indonesia. Semua ini bukti bahwa pemerintah pusat tidak hanya bicara soal Papua, tetapi benar-benar berinvestasi untuk generasi Papua,” tuturnya.
Sayangnya, ungkap Tunjung, investasi pendidikan tersebut menghadapi ancaman nyata dari kelompok kriminal bersenjata (KKB), yang mengklaim berjuang untuk Papua. Lebih dari 20 sekolah dibakar KKB, lebih dari sembilan guru tewas, dan ratusan guru lainnya terpaksa mengungsi demi keamanan sejak 2021.
“Inilah yang mendasari mengapa pendekatan keamanan juga diperlukan. Semata-mata bukan untuk mempertahankan kedaulatan, melainkan memastikan setiap anak-anak di Papua tetap mendapatkan haknya untuk belajar demi kemajuan Papua ke depannya.
Tunjung meyakini pendidikan yang merata dan berkualitas adalah solusi permanen untuk mengatasi konflik Papua. Pangkalnya, tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung menciptakan stabilitas sosial dan politik karena melahirkan generasi muda terdidik yang kritis, menolak propaganda, dan meyakini dialog sebagai jalan menyelesaikan perbedaan.
“Papua damai bukan utopia. Ia adalah hasil dari proses panjang yang dimulai hari ini, di ruang kelas, di perpustakaan, melalui beasiswa yang diterima seorang anak OAP dari kampung terpencil. Tugas pemerintah memastikan proses itu tidak terganggu,” tandasnya.

