Waka Komisi II DPR: ASN Jangan Diganti AI, tapi Harus Bisa Kuasai Teknologi

Intime – Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf menanggapi wacana efisiensi aparatur sipil negara (ASN) seiring pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI). Dia menegaskan AI tidak seharusnya diposisikan sebagai pengganti ASN.

Menurut Dede, ASN justru harus dibekali kemampuan agar bisa bekerja berdampingan dengan teknologi.

“Saya tidak sepakat kalau konsepnya ASN diganti AI, yang harus terjadi adalah mempersiapkan ‘ASN yang mampu beradaptasi dengan AI juga’ sehingga kompetensi dan kemampuannya dalam menguasai AI harus ditingkatkan,” kata Dede kepada wartawan, Selasa (25/8).

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu mengatakan perubahan teknologi pasti berdampak terhadap pola pekerjaan. Namun, tidak semua tugas ASN dapat dikerjakan AI karena masih membutuhkan kehadiran manusia secara langsung.

Dia mencontohkan pelayanan publik, kesehatan, pengaduan masyarakat, konstruksi hingga pertanian.

“Bagi mereka yang tidak bisa beradaptasi harus juga diberikan kompetensi pada pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan direct services, seperti pelayanan publik, kesehatan, pengaduan masyarakat, konstruksi, pertanian, atau lainnya yang membutuhkan in-hand secara langsung,” ujarnya.

Dede menilai pemerintah harus mengikuti perubahan yang terjadi di dunia kerja. Menurut dia, perkembangan AI merupakan bagian dari perubahan teknologi yang sebelumnya sudah dimulai melalui Industri 4.0 dan kini memasuki era Society 5.0.

“Ketika dunia swasta berubah menuju kolaborasi dengan digital maka government pun juga harus mengikuti perubahan,” katanya.

Dede pun mengingatkan agar efisiensi birokrasi tidak dipahami hanya sebagai pengurangan jumlah ASN.

“Jadi efisiensi itu jangan dipandang pengurangan jumlah ASN tapi penempatan yang sesuai dengan kemajuan zaman dan tuntutan pekerjaan masa depan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala LAN Muhammad Taufik mengatakan pihaknya telah menjalankan transformasi pengembangan kompetensi ASN selama hampir dua tahun.

LAN, kata Taufik, memperkuat ekosistem pembelajaran dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk perusahaan teknologi.

“Kita ingin memperkuat pengembangan kompetensi di bidang AI,” ujar Taufik.

Sejumlah perusahaan teknologi dalam dan luar negeri disebut terlibat dalam pengembangan kompetensi tersebut. Di antaranya Microsoft, Google, dan Amazon Web Services.

“Kita tidak hanya partner dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Tidak hanya pemerintah, tapi juga dari swasta, seperti Microsoft, Google, ada Amazon Web Services, dan seterusnya,” kata Taufik.

Dia berharap program tersebut membuat ASN dapat belajar teknologi secara lebih aplikatif dan menghasilkan kinerja yang berdampak bagi pelayanan pemerintahan.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini