Wakil Ketua DPRD Cirebon Minta Maaf usai Ejek Emak-emak Pengkritik MBG dengan Sebutan ‘Gembrot’

Intime – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon dari Fraksi Gerindra, Nana Kencanawati, menjadi sorotan setelah komentarnya di media sosial yang menyebut seorang emak-emak dengan kata “gembrot” viral dan menuai kritik.

Komentar itu ditujukan kepada Made Nok, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya menyampaikan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat mengikuti aksi demonstrasi gabungan Aliansi BEM Cirebon Raya di depan DPRD Kota Cirebon, Senin (15/6).

Dalam orasinya, Made Nok meminta pemerintah lebih memprioritaskan pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan pokok masyarakat.

“Saya mewakili emak-emak ikut unjuk rasa, banyak anak yang tidak bisa meneruskan pendidikan, hentikan MBG. Kami hanya butuh pendidikan murah, kesehatan murah, sandang pangan murah,” kata Made Nok.

Video orasi tersebut kemudian beredar di media sosial. Pada salah satu unggahan, akun Instagram @nanakencanawati menuliskan komentar yang dianggap merendahkan.

“Lagian siapa yang mau ngasih lo makan????, udah GEMBROT!!!,” tulis akun tersebut.

Komentar itu belakangan dihapus. Namun tangkapan layarnya telah lebih dulu tersebar luas dan memicu reaksi publik.

Setelah polemik mencuat, akun media sosial Nana diketahui menutup kolom komentar.

Nana kemudian menyampaikan permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya. Ia meminta maaf kepada Made Nok, keluarga, serta masyarakat atas komentar yang dibuatnya.

“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu yang bersangkutan, keluarga, serta seluruh masyarakat atas komentar yang saya tuliskan di media sosial,” tulis Nana, dikutip Rabu (16/6).

Nana mengakui komentar tersebut tidak tepat dan tidak mencerminkan sikap yang seharusnya dimiliki seorang pejabat publik.

“Komentar tersebut tidak tepat, tidak mencerminkan sikap yang seharusnya saya tunjukkan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta ketersinggungan bagi banyak pihak. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih bijak, berhati-hati dan menghormati setiap warga dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial,” tulisnya.

Ia juga berjanji akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik, termasuk di media sosial.

Viralnya komentar tersebut memicu sorotan terhadap etika pejabat publik dalam merespons kritik masyarakat, khususnya terkait penggunaan media sosial sebagai ruang komunikasi dengan publik.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini